Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Penulis - Penulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kamu bintang besar! Apa yang akan menjadi keberuntungan Anda jika Anda tidak memiliki sesuatu yang membuat Anda bersinar? -Friedrich Nietzsche-

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Desa dan Harapan Kesejahteraan Hidup

26 Agustus 2020   20:07 Diperbarui: 27 Agustus 2020   16:54 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dalam diam dan kesenyapan, hidup di desa menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Masih luasnya lahan pertanian belum digantikan oleh beton atau aspal merupakan titik pijak nadi kesejahteraan itu yang tidak dapat disangkal.

Istilah satu jengkal tanah mengandung makanan di desa bukanlah mitos belaka. Namun sudah menjadi kenyataan dari jalan sejahtera suatu desa dengan tradisi kuat agrarisnya.

Meski hiruk pikuk kota terlalu jauh dibandingkan dengan desa. Atau dengan gedung-gedung tinggi itu, serta jalan-jalan yang besar tanda majunya peradaban. Tetapi rasanya tidak penting dikala kesejahteraan pangan sulit didapatkan dalam bayang-bayang masyurnya peradaban bila di kota.

Desa dengan seglintir problematikanya memang mencengangkan bagi orang-orang yang telah terbiasa dalam peradaban hingar-bingar kota. Tetapi akan bagaimanapun ketenangan serta ketentraman akan bahan ketersediaan pangan  menjadi titik balik. Dimana pun jika dibanding-bandingan antara kota dan desa; bagi saya tetap lebih baik tinggal di desa.

Memang menjadi alasan yang sederhana dan masuk akal bawasanya dengan orang-orang yang merantau ke kota jika berasal dari desa. Impian akan masa pensiun atau masa tua mereka setelah merantau ke kota dan bekerja di kota pasti ingin hidup di desa. Sesuatu keinginan itu benar adanya.

Seperti pak de saya, kakak dari ibu saya di kota Jakarta sebagai seorang PNS. Meski disana sudah punya rumah sendiri dan keluarga. Sudah punya angan-angan untuk hidup di desa memanfaatkan tanah warisan yang di dapat dari simbah saya untuk membangun rumah dikala sudah pensiun dalam bekerja.

Saya kira wajar bila pak de saya benar-benar tertarik untuk pulang kampung. Sebab kebutuhan makan di desa lebih murah dari pada di kota. Terlebih dengan tanah pertanian yang ada di desa, setidaknya bila tidak punya sayuran dapat memetik langsung di pekarangan rumah.

Ditambah pak de saya seorang PNS dengan gaji pensiunan yang ada pasti nantinya setiap bulan untuk kebutuhan hidup. Jika hidup di desa pasti tetap dapat sejahtera walau gaji hanya sebatas pensiunan. Berbeda dengan di kota yang kebutuhannya tinggi, pasti uang pensiunan tersebut hanya cukup untuk makan dan kebutuhan hidup sehari-hari saja.

Jika memang kita hidup tidak pilih-pilih lauk, seperti jantung pisang, nangka, dan daun-daunan yang lain juga dapat dijadikan sayuran. Masih mending di desa jika sudah pensiun, apapun profesinya termasuk Karyawan swasta itu sendiri.

dokpri: (nangka muda)
dokpri: (nangka muda)
Dapat menekan setiap kebutuahan makan berkat ketersediaan pangan asalkan mau hidup prihatin dan menanam. Yang jelas asal mau bertani pasti tetap akan produktif dan sejahtera tidak hanya seorang pensiunan jika di desa. Semua termasuk kaum muda asal mau menanam pasti akan sejahtera hidup di desa.

"Sebab di desa sejahtera bukanlah yang hanya mempunyai uang banyak. Ketersediaan makanan juga termasuk dari apa yang dinamakan kesejahteraan meski minim uang".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun