Pandemi covid-19 tidak dipungkiri ia membombardir hancur lebur segala aktivitas manusia termasuk aktivitas perekonomiannya.
Memang kalau sedikit saja menyadari dan memaknai saat pandemi covid-19 ini. Rasanya benar, kita seperti diperintah sedikit melambat dengan segala aktivitas-aktivitas yang ada sebelumnya.
Tetapi apakah dengan aktivitas melambat. Daya manusia mencukupi kebutuhan makan sehari-hari juga secara otomatis melambat? Yang tadinya makan tiga kali sehari menjadi satu kali?
Inilah yang terkadang dalam diam saya berpikir. Apakah dengan segala aktivitas-aktivitas yang dibatasi itu, benar-benar tidak akan menyengsarakan hidup manusia?
Pandemi covid-19 memanglah bukan sesuatu yang terlihat. Tetapi yang tidak terlihat itu nyatanya menakutkan jika orang-orang terus di takut-takuti.
Bagi orang kecil seperti saya yang tidak mendapat dan merasakan lancarnya gaji dari pemerintah, mau di takut-takuti seperti apapun tidak bakal takut, tak kala perut lapar menjadi sebabnya.
Namun yang terkadang membingungkan itu. Mengapa orang-orang dalam pemerintahan sendiri tidak cenderung berpikir dan merasakan juga beban-beban orang kecil seperti saya, yang terkena PHK dan bingung mau apa saat pekerjaan tidak ada?
Belum dengan pelambatan ekonomi yang terjadi saat ini. Kenyataannya akan kapan lowongan kerja dan saya dapat diterima bekerja kembali saja saya tidak tahu.
Belum dengan orang-orang yang mungkin punya kepentingan dan nasib seperti saya yang bekerja di sektor informal.
Pedagang, pekerja seni, juga pekerja-pekerja event lainnya seperti hajatan, festival dan lain sebagainya yang saat ini terganggu perekonomianya akibat pandemi.
Sebab secara regulasi pemerintah dan mengingat dimasa covid-19. Saat ini masyarakat tidak bebas dalam rangka membuat acara besar yang mendatangkan banyak masa sudah menjadi aturan adaptasi hidup baru.