Disudut gelap sana, apakah tidak memerlukan cahaya didalammnya? Ini memang seperti sebuah kerancuan, ia tidak bisa memilih, bahkan sebagai pilihan itu sendiri, akan selalu jatuh dan mempertahankan kepentingan orang lain, justru bukan kepentingan dirinya sendiri.Â
Mengapa justru yang posisinya kuat malah dibela, atau dengan yang posisinya kuat itu justru tidak membela yang lemah?Â
Dunia saat malam menjelang bagi seorang kariyawan, itu bukan saatnya untuk terapi, tetapi melepas beban dari pekerjaan yang ada.Â
Namun yang masih terbayang-bayang, akankah jatuh pada hal yang terus-menerus dibayangkan?Â
Ini bukanlah suatu kemudahan, karena mudah dan sulit sebagai diri manusia itu sendiri, hanya dirinya-lah yang mampu keluar dari tekanan yang justru ia buat sendiri.
Manusia dan rasa ketakutannya itu sendiri, mengapa justru rasa ketakuan itu yang dominan pada perasaannya?Â
Tidak ada titik membahagiakan sedikit-pun manusia yang takut itu, justru selebihanya mereka akan terus dibayangi oleh ketakutannya sendiri se-umur hidupnya.Â
Memang semua rasa yang dipilih manusia adalah buah dari apa yang dipikirkannya. Tetapi berpikirlah untuk bebas tanpa belenggu dan tanpa konflik kepentingan yang hadir sebagai wadah dirinya bereksistensi sebagai manusia.
Masalah mungkin tidak pernah habis, dan tentang manusia yang kecewa terhadap diri-diri yang lain, mungkin akan terus ada walau pun ia sangat sedikit berinteraksi dengan yang katanya "lain" tersebut.Â
Tetapi dengan dan masih hidup itu, manusia adalah buah dari sesuatu peristiwa besar yang tidak bisa dihindari, yang ia sendiri hidup harus tetap dijalani--- apapun diri dan sebagai apapun beban hidup itu tetap manusia harus menjadi manusia.
Mempermasalahkan jika dipikir memang bukanlah suatu kebajikan manusia, apalagi dengan apa yang masing-masing jalani "sebagai" Â yang sama-sama sedang dijalani.Â