Belum dengan resiko mereka dalam menanam, pupuk yang mereka harus beli, bahkan tenaga merawat tanah yang mereka harus garap sebagai lantaran membuahkan pangan.
Petani merupakan profesi kompleks, bukan hanya ia harus ditinggikan sebagai strata profesi tetapi sebagai pahlawan pangan yang harus terapresiasi secara lebih di dalam setiap akomodasi kerjanya sendiri.
"Siapa yang mendambakan suatu hasil, di sana manusia harus rela menanam". Tanam dan tanamkanlah hal yang baik untuk keberlangsungan kehidupan, dan mereka petani mengisi hidup dengan sangat baik, menanam untuk kehidupan yang lebih baik"
Berbicara tentang kerelaan, petani tetap adalah orang-orang yang rela itu dengan segenap rasa yang mereka bawa, hidup sederhana, di Desa terpencil, namun kontribusi mereka patut untuk ditilik sebagaimana semangatnya sendiri dalam bingkai pengabdian hidup bagi sesama.
Mereka "petani" tidak peduli hingar-bingar politik, menjauh dari hiburan-hiburan yang tidak mungkin dapat mereka jangkau dengan uangnya, dan perkara menanggapi isu-isu sosial yang ada, mereka petani desa adalah orang yang apatis, tidak mau tahu dan tidak ingin ikut-ikut terlibat.
Petani orang yang bebas, menciptakan hidup untuk harmoni dengan alam, dan orang yang selalu berharap pada kebaikan dari menanam.Â
Friedrich Nietzche filsuf Jerman pernah berkata tentang manusia unggul di sana, adalah mereka-mereka yang tinggal di lereng-lereng gunung, di desa-desa, dan mereka hidup menikmati kesederhanaan selaras dengan alam. Tentu gambaran dari manusia unggul tersebut yaitu; Petani!
Tidak pernah terbayang nanti ketika lading-ladang atau sawah-sawah berubah di Desa menjadi bangunan perumahan, jalan tol, atau dengan pabrik-pabrik industri disana.
Sepetak tanah yang dialih fungsikan sebagai; "bukan memproduksi pangan itu sendiri, akan memunculkan berbagai masalah baru yakni kemiskinan yang diturunkan".
Berbeda ketika tanah-tanah itu lestari dalam bingkai manusia beranak-pinak didesa, adanya lahan untuk menanam selalu menjamin siapapun manusia entah berapapun generasinya; "akan terjamin oleh alam dalam menghasilkan pangan itu sendiri, asalkan mereka "manusia" mau menanam.
Bukankah menjadi suatu masalah ketika tanah-tanah sudah dimiliki oleh bukan petani? Dan dimanakah petani akan menanam lagi? Tanah dan menanam akan selalu menjadikan hidup terus lebih baik, dan ketika tanah hilang menjadi bangunan, akan kemanakah manusia unggul disana dengan wajah petani? Apakah matinya manusia unggul tersebut dari awal tawaran modal itu sendiri, dimana mereka tergiur menjual tanah diganti dengan uang?Â