Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Toleransi Umat Beragama di Kediri

24 Maret 2022   20:31 Diperbarui: 24 Maret 2022   20:44 528 0
Hari Sabtu kemarin aku menemui seorang paulus dan pendekta. Beliau bernama paulus dan pendeta. Paulus berasal dari Jawa Barat, dan pendeta beradal dari Banyuwangi. Mereka mengabdi atau ditugaskan di Gereja Bethany Kediri. Saya mewawancarai paulus dan pendeta. Menanyakan tentang bagaimana toleransi umat beragama di Kediri. Beliau berdua menjawab bahwa di Kediri toleransinya sangat baik, dibandingkan di daerah beliau. Di Kediri bisa dibilang masyarakatnya tidak gampang tersinggung jika ada problem atau permasalahn yang berkaitan dengan agama mereka tidak pernah langsung rasis dan mengatakan siapa yang benar dan salah. Pasti ada titik temu dan selalu dengan kepala dingin. Sejauh  ini beliau mengatakan tidak pernah ada masalah kesenjangan agama di Kediri, selalu rukun dan damai-damai saja. Antar para pemuka agama juga sering bertemu untuk menjaga kestabilan bernegara agar tidak pernah ada kesenjangan agama, biasanya pertemuan antar pemuka agama diadakan di kantor wali kota. Jadi nanti para pemuka agama memberi penyuluhan atau yang akrab disebut ceramaah kepada para jamaah agar selalu menjaga kerukunan antar satu sama lain, rukun dalam beragama dan bernegara. Beliau juga berkata jika ingin rukun ya bertindak santai saja seperti manusia biasa pada umumnya saat berkomunikasi. Pastinya masyarakat juga tahu mana komunikasi yang pantas dan tidak. Jikalau memang membahas tentang agama mungkin mereka juga hanya membahas karena rasa ingin tahu agama lain itu seperti jadi sifatnya seperti sharing. Aku dulu juga punya teman yang nonis, kami satu tempat les. Bahkan kami juga cerita-cerita tentang bagaimana agama kami masing-masing. Bahkan dia juga bercerita pengalamannya dibaptis setelah ga masuk les selama seminggu. Intinya toleransi, bisa terus terjalin jika mereka tetap berpegang teguh pada sifat saling menghargai. Semua agama memiliki aqidah atau keyakinan masing-masing yang mereka anut. Dan kita sebagai wargna negara Indonesia pun juga memiliki hak dalam memilih agama atau keyakinan yang kita anut. Jadi kita tidak boleh memaksa orang lain untuk berkeyakinan sama dengan kita.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun