Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bola Pilihan

Timnas Indonesia dan Ancaman Plot Negatif dari Timur Tengah

12 Oktober 2024   13:25 Diperbarui: 12 Oktober 2024   13:53 1141 14
Seiring hasil imbang 2-2 antara Timnas Indonesia melawan Bahrain, Rabu (10/10) lalu, kejengkelan masih mewarnai "mood" sebagian publik sepak bola nasional. Maklum, kemenangan di depan mata sirna, akibat keputusan wasit yang dinilai kontroversial.

Tentu saja, ada banyak pihak yang kecewa. PSSI juga mengirim protes ke AFC dan FIFA, karena kualitas kepemimpinan wasit Ahmed Abu Bakar Al Kaf dinilai bermasalah.

Tapi, kalau dilihat lagi, apa yang didapat Indonesia di Bahrain menghadirkan satu aroma plot negatif, dengan tim-tim kelas menengah Timur Tengah sebagai tersangka. Kebetulan, Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia memperebutkan 8 tiket lolos otomatis plus 1 tiket play-off antarbenua.

Dugaan plot negatif ini setidaknya sudah terlihat, dari pembagian grup. Grup A yang "dikuasai" Iran dan Uzbekistan menghadirkan Uni Emirat Arab dan Qatar yang berpeluang maju ke babak kualifikasi selanjutnya.

Dua tim lainnya, yakni Kirgistan dan Korea Utara, berpotensi menjadi juru kunci, karena sama-sama belum pernah menang di 3 pertandingan. Kirgistan selalu kalah, sementara Korea Utara dua kali imbang dan sekali kalah.

Di Grup B, Korea Selatan dikepung 5 tim Timur Tengah sekaligus, yakni Irak, Palestina, Jordania, Kuwait dan Oman. Meski Korea Selatan masih cukup kuat, setidaknya ada satu tiket lolos otomatis dan dua tiket babak kualifikasi selanjutnya, yang sudah pasti didapat wakil Timur Tengah.

Dari dua grup ini, posisi Iran dan Korea Selatan relatif sulit digoyang, karena memang sudah cukup kuat di Asia. Di sisi lain, Uzbekistan yang terus berkembang di level junior, mulai mengintip kesempatan tampil di Piala Dunia level senior.

Grup C sebagai grup terakhir, justru menciptakan situasi paling rumit. Ada tiga tim langganan Piala Dunia, yakni Arab Saudi, Australia dan Jepang. Pada prosesnya, muncul Indonesia dan Bahrain yang sama-sama muncul sebagai tim kuda hitam, karena mampu mencuri poin dari Australia.

Di atas kertas, Jepang dan Australia sama-sama akan berusaha lepas dari kejaran Arab Saudi. Jepang bahkan langsung tancap gas dengan menyapu bersih tiga kemenangan tanpa kebobolan.

Masalahnya, dengan gebrakan Bahrain, yang justru akrab dengan kontroversi, tidak sulit untuk menebak, akan ada upaya "mengamankan" enam tiket ke babak kualifikasi selanjutnya, untuk tim-tim Timur Tengah.

Sebelum menghebohkan dengan kontroversi keputusan wasit saat bermain imbang 2-2 dengan Indonesia, tim berkostum merah ini juga sudah terbantu hadiah kartu merah dan sikap cuek wasit atas permainan negatif mereka, saat mengalahkan Australia 1-0.

Satu hal yang membuat situasi menjadi aneh adalah, laga melawan Australia dipimpin wasit Omar Mohamed Ahmed Hassan Al-Ali yang negara asalnya satu kawasan dan bahasa dengan Bahrain.

Entah kebetulan atau bukan, wasit asal Uni Emirat Arab ini juga bertugas sebagai wasit di pertandingan Indonesia versus tuan rumah Tiongkok.

Situasi ini juga terjadi di laga Bahrain melawan Indonesia, karena wasit Ahmed Abu Bakar Al Kaf berasal dari Oman, negara yang juga satu kawasan dan bahasa dengan Bahrain.

Ketika kalah 0-5 dari Jepang pun, oknum suporter Bahrain juga menghadirkan insiden, yakni serangan sinar laser ke pemain Jepang. Ajaibnya, AFC tidak langsung mengambil tindakan tegas.

Entah bagaimana, negara Teluk ini seperti mendapat fasilitas khusus, dan kebetulan kursi presiden AFC dijabat Salman bin Ibrahim Al Khalifa, orang Bahrain yang pernah menjadi Ketua Umum BFA (PSSI-nya Bahrain).

Sebelum Bahrain mencuat dengan kontroversinya, Qatar juga menghadirkan cerita miring di akhir babak kedua kualifikasi, dengan mencetak "gol hantu" ke gawang India, bulan Juni 2024 silam. Selengkapnya di video berikut ini:

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun