Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Bangsa Kita Bangsa yang Jujur! (Dulunya)

16 Januari 2012   16:00 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:48 206 0
Mengutip dari Petite Histoire, Sejarah Kecil Jilid 1 karya Rosihan Anwar, terdapat persaksian seorang Residen Semarang, G.L. Gonngrijp (1859-1939), dalam suratnya yang ke-40 kepada Jan Fabricius, pemimpin Redaksi Bataviaasch Handelsblad. Berikut penuturannya tentang Kromo (sebutan untuk rakyat jelata di Jawa dahulu) di daerah Banyuwangi :

"Jika ada orang kehilangan sesuatu di Banyuwangi, dia hanya harus kembali ke jalan yang telah dilaluinya. Pejalan pertama yang menemukan benda itu mengikatkan tali pada benda yang hilang, lalu menggantungkannya pada sebuah pohon. Tergantung kira-kira di atas pertengahan jalan dan tiap orang yang lewat membiarkannya dengan tenang di sana. Suatu bangsa yang memiliki adat kebiasaan demikian, mempunyai perasaan mendalam terhadap kejujuran. Suatu waktu saya memperoleh kembali potlod saya yang telah hilang. Si Kromo yang jujur membawa barang yang tidak berharga itu sejauh 8 batu dan menyerahkannya kepada saya. Kejujuran Kromo memang mengharukan. Di mana-mana kita temui jejak-jejak sifat itu." kata Gonggrijp.

Lalu Gonggrijp membandingkannya dengan situasi di Den Haag di kala itu,

"Di Den Haag dengan naik sepeda saya kunjungi seorang teman lama. Dia tinggal di lantai atas. Saya mau taruh sepeda di lantai bawah. 'Tidak, bawa ke atas.' ujar teman. Maka saya harus mengangkat sepeda itu naik tangga. 'Apakah sepeda tidak aman di balik pintu rumah yang tertutup?' tanya saya. Menurut teman saya, sama sekali tidak. Kita tidak berada di Hindia-Belanda. Orang menekan bel, pembantu pergi sebentar ke dalam menyampaikan pesan, dan sepeda lenyap. Mengenai kejujuran, Kromo sama sekali tidak jelek dibandingkan dengan saudara kulit putihnya." tulis Gonggrijp.

Masihkah nilai-nilai itu tersisa dalam gen kita? Semoga masih!

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun