Larangan terhadap cinta dunia dan takut mati inilah yang menjadi prioritas pesan Muhammad untuk agenda generasi sesudahnya. Pada masa Sang Nabi masih hidup orang bisa bertanya langsung kepada beliau dan orang-orang munafik diketahui beliau meski dirahasiakan hanya kepada salah seorang sahabatnya. Pada masa sekarang kita menyaksikan sendiri betapa banyak ulama-ulama cinta dunia dan penjilat penguasa dan pengusaha. Pada masa yang paling buruk nanti Nabi menasehatkan untuk mengasingkan diri. Inilah ujian terbesar bagi umat Muhammad di akhir zaman. Bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian pada masa itu, kata beliau, tetapi makin terbukanya perhiasan dunia. Makanya bisa dipahami bahwa prioritas utama perjuangan akidah tauhid aliran agama yang hanif untuk masa kontemporer ini adalah memerangi penyakit al-wahn dan para marketingnya yang berjubah motivator cinta (ke)hidup(an) kadang-kadang.
Pada masa kini tentulah wajar kiranya kaum munafikun ini jumlahnya lebih masif lagi dibanding dengan masa Muhammad masih hidup di Madinah. Sebagai munafikun tentunya senjata mereka adalah ibadah ritual dan akhlak yang bersifat tampilan luar. Mereka sangat rajin dan bekerja keras untuk ini. Sehingga menjadi sulitlah bagi kita pada masa kini untuk membedakan yang mana syekh dan yang mana syekhtan. Kecerdasan metode-metode politiknya untuk memanipulasi kebenaran pun tentunya makin meningkat sehingga seolah-olah mereka akan terlihatnya sebagai orang yang tampil saleh dan memasarkan kebaikan. Padahal busuknya ada jauh tersembunyi di dalam. Bagi, sebagaimana dijanjikan Iblis dalam Quran, kecuali orang-orang yang mukhlis sebetulnya ada alat yang jelas untuk mengukurnya yaitu seberapa besar al-wahnnya. Jelas sekali kaum al-wahn munafikun ini ujung-ujungnya akan mensaleskan paradigma cinta dunia. Jelas juga karena kehidupan dunia inilah tujuan mereka yang riil (akhirat untung-untungan dan cadangan saja). Karenanya mereka akan sangat memandang penting untuk menjalin networking kepentingan ekonomi dan politik dengan sebanyak mungkin manusia.
Bahkan kalau perlu mereka melakukan ibadah akhirat untuk mendapatkan hasil duniawi. Maka tepatlah bagi kita sebagian kecil, sebagaimana disebut oleh Quran lagi, tidak mengikuti kebanyakan orang yang tersesat untuk menyatakan prioritas perang pada masa kini terhadap kaum Islam munafikun al-wahn mania dengan empat simbol karakternya: tamak, licik, pendengki, dan bunglon. Seorang yang ikhlas, hanif, dan berserah kepada kehendak Allah harusnya beramal bukan supaya mendapat syurga, melainkan beribadah sehingga diberi syurga. Bukan amal kita yang bernilai nantinya tapi ridho ilahi atas kemurnian niat ibadah kita. Karena ada orang (munafik) yang beramal dengan amalan-amalan calon penghuni syurga namun takdir Allah mendahuluinya dan dia (pantas) masuk neraka. Penghisaban itu ada pada bagian akhirnya, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dan itu butuh niat yang murni 100% hanya untuk-Nya; tidak mempersekutukan dengan materi, tahta, dan yang lain-lain. Inilah tauhid hanif untuk zaman kontemporer penuh fitnah dan kekacauan informasi ini guna bersikap kontra terhadap pragmatisme tawaran kesenangan hidup dari jaringan alwahn munafikun yang memang akanmendapatkan jatah syurga dunianya. Ini bukan soal kaya-miskin (gak penting banged) yang dibahas pada tulisan-tulisan lainnya.