Bola mata di belakang lensaku selalu saja menari-nari kegirangan, membayangkan kental kuah santan dan empuknya daging ayam kampung, bila bunyi sirene tanda buka puasa terahkir berkumandang. Ketupat sepadat bantal tentu saja kupotong dengan semangat 98, seperti menemukan jodoh untuk lidah pecinta kulinerku.
KEMBALI KE ARTIKEL