Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Lelaki Komersial, Tante Senang, Ada Apa Denganmu?

26 Maret 2010   02:09 Diperbarui: 26 Juni 2015   17:11 875 0
Pagi ini membaca di id.news.yahoo.com, ada 2 desa kecil di salah satu sudut kota Boyolali, tepatnya desa Cabean dan Bakalan, dimana desa itu selain penghasil keranjang ayam di siang hari, malamnya para pemuda pengrajin itu banyak yang memiliki profesi sampingan sebagai gigolo.

Ketika malam menjelang, utamanya di akhir pekan, para pemuda perajin yang berusia rata-rata sekitar 20 tahunan itu mulai merambah kota Boyolali hingga ke kota-kota sekitarnya, seperti Semarang, menjajakan dirinya sebagai pemuas dahaga tante senang. Kebutuhan ekonomi seringkali menjadi latar belakang kondisi itu, di samping kebutuhan mengikuti gaya hidup terkini yang tak lagi menjadi kebutuhan para remaja kota-kota besar saja.

Luasnya media informasi ke pelosok desa, ditengarai menjadi salah satu pemicu utama para pemuda desa untuk ikutan serta bergaya hedonis, disamping faktor mencari nafkah tambahan bagi keluarganya di desa.

Mall-mall yang tumbuh subur menjadi ajang mempromosikan diri, mencari pelanggan para ibu-ibu tengah umur, maupun wanita dewasa yang haus akan sentuhan mereka, pemuda tanggung alias "brondong". Selain mall, salon-salon kecantikan pun seringkali menjadi pusat peredaran mereka. Salon-salon yang kini banyak tumbuh subur, namun seringkali tak memiliki peralatan atau skill salon yang memadai, karena memang bukan itu tujuan utama mereka. Mereka hadir hanya sebagai kedok penjajaj para pemuda tanggung yang sudah mereka latih bagaimana memuaskan hasrat nafsu kaum ibu atau wanita lajang yang kesepian, atau kaum wanita yang ingin berpetualang dengan pria muda masih bau kencur itu.

Kalau menilik situasi itu, rasanya sulit bagi kita membedakan pelampiasan hasrat, hawa nafsu maupun sekedar memenuhi kenikmatan adventure dengan pasangan yang baru di kenal, yang masih hijau, antara kaum lelaki dengan perempuan. Keduanya cenderung memiliki cara-cara pencapaian yang sama saja.

Selain bertujuan ekonomi dan hedonis di pihak pemuda hijau itu, sungguh menarik menyimak apa dan siapa yang menjadi sasaran target para pemuda hijau itu? Apakah mereka para wanita lajang yang belum memiliki pasangan? wanita setengah umur yang sesungguhnya memiliki suami di rumah? atau para wanita yang pernah memiliki pasangan dan kini tidak lagi?

Bila ada diantara mereka yang menjadi pelanggan para pemuda komersial itu adalah wanita lajang, berapapun usianya namun belum pernah berumah tangga, ini jelas sangat menarik untuk dipelajari lebih dalam. Secara ekonomi, mereka jelas mampu dan memiliki wawasan yang cukup terasah. Buktinya mereka berani memasuki pasar penjaja yang sebenarnya cukup rawan dan jelas membuat "risi" banyak kaum wanita pada umumnya. Yang menjadi pertanyaan turunan adalah, kenapa mereka mempertahankan kelajangan mereka dan memutuskan lebih baik "jajan" brondong saja dibandingkan memiliki pasangan tetap, seorang suami, misalnya?

Pasar kedua para brondong komersial ini adalah kaum wanita yang sesungguhnya memiliki seorang suami di rumah. Hmm, apa yang terjadi dengan pasangan mereka di rumah, sehingga mereka "keluyuran" diluar "mencari apa yang dicari yang mereka tidak dapatkan dari pasangan mereka di rumah", berupa seks, kepuasan nafsu, kehangatan dari pelukan lelaki?

Atau, mungkinkan mereka baik-baik saja dengan saja dengan pasangan di rumah, namun jiwa petualang yang ada di dalam hati yang membawa mereka akhirnya turun ke jalan mencari "brondong manis komersial" itu? Rasanya sangat naif jika hal ini yang menjadi latar belakang kenapa mereka turun ke jalan.

Pasar ketiga adalah wanita yang dulu pernah memiliki pasangan dan kini tidak lagi. Rasanya alasan ini paling mudah dan bisa diterima, walau saja hal ini bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan. Pengalaman pernah menikmati indahnya malam bersama pasangan jelas bukan satu hal yang mudah untuk dinafikan keberadaannya dari rasa dan hati mereka. Jadi sangat wajar jika mereka merindukan dan ingin mendapatkannya lagi sekarang. Namun jelas, cara mendapatkannya dengan membeli kenikmatan dan kepuasan sesaat dari para pemuda hijau di jalanan ini sangat memiriskan hati.

Inilah kenyataan kehidupan malam di sekitar kita. Kini tak hanya kaum lelakinya yang keluar malam mencari pasangan sesaat baik dari remaja-remaja putri yang bisa jadi seumur dengan putri mereka di rumah, namun juga dari wanita matang yang penuh dengan pengalaman bagaimana memuaskan hasrat lelaki. Satu hal yang acap kali menjadi alasan para lelaki berhidung belang, bermata keranjang namun dompetnya berlubang hingga uangnya melayang ke perempuan jalanan. "Habis bagaimana ya? kan tidak mungkin juga meminta yang aneh-aneh dari istri di rumah...", salah satu dari mereka berujar. Duuuh.

Sebaliknya, kaum wanita pun kini lebih terbuka, lebih berani dan lebih berwawasan, sehingga tak perlu risi lagi jika mereka berjalan bergandengan tangan di malll-mall, di salon-salon kecantikan, dan sembari bergandengan tangan, berpelukan, mereka memasuki kamar-kamar hotel untuk short time, long time atau long shoot, entahlah.

Inikah yang disebut jaman keterbukaan, hingga laki perempuan sama semangatnya membuka pakaian mereka?

Jaman emansipasi, persamaan gender, sehingga laki perempuan sama-sama turun ke jalan mencari pasangan semalam?

Jaman persamaan hak, take and give, tak boleh ada paksaan, yang penting kedua-duanya senang. Yang satu senang terlampiaskan hasrat nafsunya, yang satu lagi merasaq senang karena terpenuhi keinginannya, baik berupa uang maupun barang hedonis semata.

Kata siapa prostitusi adalah pemerkosaan terselubung jika pelakunya dengan sadar diri, niat dan kemantapan hati melakukan itu untuk memenuhi keinginannya sendiri ataupun kebahagiaan keluarganya di rumah. Siapa tahu mereka juga ikut menikmati dengan sangat ketika transaksi itu sedang mereka jalankan. Sudah enak, nikmat, dibayar pula, siapa yang mau menolaknya? Demikian kata para setan marakahyangan di telinga mereka.

Jangan menikah karena itu akan mengikatmu, memenjarakan kebebasan hidupmu selamanya, hingga kau mati nanti.

Tapi, dengar-dengar, kabarnya kaum wanita jauh lebih banyak dari lelakinya? Jangan kuatir, bila sulit menemukan calon suami yang cocok, toh kaum perempuan kini bisa mendapatkan apa yang bisa diberikan lelaki dari jalanan kapan saja kita mau.

Eh, kamu jangan mau di poligami ya? karena itu merupakan pelecehan seksual kaum lelaki kepada wanita, itu penindasan kepada kaum perempuan. Dari pada jadi istri ke sekian, lebih baik membujang, toh lelaki bisa didapatkan kapan saja dan dimana saja, di jalanan juga banyak.

Lalu, dimanakah kini ajaran-ajaran agama itu berada?

Tenang, mereka semua masih tetap memilikinya, hanya saja, sementara ini mereka simpan baik-baik dan rapat di pojok-pojok nan gelap rumah hati mereka.

Mengutip lirik lagu Ebiet G Ade, "Ini dosa siapa? salah siapa? jawabannya ada di relung hati kita..."

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun