Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Benarkah Aceh itu Serambi Mekkah?

7 Januari 2014   18:37 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:03 1250 0

Ketika Aceh dikatakan sebagai Serambi Mekkah, maka hal yang harus dilakukan adalah pembuktian. Dan tentunya pembuktian itu harus dilakukan secara ilmiah. Berbicara ilmiah, bagi para mahasiswa baik untuk sarjana, master maupun doctor, maka hal terpenting yang harus termaktub di dalamnya adalah penelitian. Dalam konteks penelitian ini, factor utama yang harus dipenuhi yaitu, studi literature (referensi, red) dan survey ke lapangan.

Baiklah, meski saya bukan ahli sejarah, sebagai orang Aceh tentunya saya juga memiliki sedikit tanggung jawab untuk membuktikan bahwa Aceh ini adalah daerah Serambi Mekkah. Mungkin pembuktian ini tidak mendalam tetapi ini juga termasuk ke dalam bebera ketogeri metode penelitian, yaitu, melalui wawancara dan pengamatan bangunan secara langsung yang pada salah satu kampung yang terletak di Provinsi Aceh

Adalah nama Kampung itu Kuta Trieng. Gampong ini yang terletak di Kemukiman Beuracan, lokasinya berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat pemerintahan Mereudu—ibukota Kabupaten Pidie Jaya. Sebuah masjid tua kecil masih berdiri kokoh. Masjid itu dinamakan Masjid Teungku Dipucok Krueng. Pada bagian kubahnya, masjid itu memiliki kesamaan seperti kubah-kubah masjid lain yang dibangun di Mekkah dan Madinah – Saudi Arabia.

Sejarah Teungku Dipucok Krueng

Pembangunan masjid Teungku Dipucok Krueng ini didirikan pada Masa Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636 M) di atas tanah wakaf milik warga setempat. Pemberian nama ini dikarenakan pendirinya digelar dengan sebutan Teungku Dipucok Krueng.

Menurut Teungku Ismail, bilal Masjid TeungkuDipucok Krueng dalam wawancara dengan penulis beberapa tahun lalu mengatakan, nama asli pendiri masjid tersebut adalah Teungku Abdussalim. Beliau salah satu ulama besar dari Arab Saudi yang yang diutus oleh chalifah untuk menyebarkan islam ke wilayah ini.

Sebutan Teungku Dipucok Krueng adalah gelar yang diberikan oleh warga, karena semasa hidupnya, Teungku Abdussalim menghabiskan waktunya hanya bermunajat kepada Allah di Pucok Krueng (Hulu Sungai) Beuracan. Teungku Abdussalim tidak hanya membangun masjid di Beuracan saja. Tetapi, beliau membangun beberapa masjid lainnya di wilayah yang berbeda, yaitu MasjidKuta Batei, Masjid Madinah dan Masjid di Lampoh Saka, Kabupaten Pidie.

Masjid Teungku Dipucok Krueng memiliki tiga lapisan atap, 16 tiang dari kayu yang digunakan sebagai penopang untuk menahan atap bagian atas. Tetapi, karena bangunannya sudah sangat tua, beberapa ornamennnya sudah diganti dengan material baru.

Di dalamnya masjid itu terdapat sebuah mimbar dari tembok semen dengan cat putih dan atap dari tirai/kayu. Pada pintu masuk, terdapat sebuah guci besar yang terisi air yang telah ditutupi oleh kain.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun