Pagi itu, mentari menyusup lembut melalui jendela rumah kayu sederhana di tepi desa. Sutipa tersenyum kecil melihat Rihen, putranya yang berusia lima tahun, berlari ke dapur sambil memanggil nama ayahnya. Suaminya, Juno, duduk di kursi rotan, menyeruput kopi sambil membaca koran. Kehangatan itu terasa nyata, seperti mimpi yang Sutipa takutkan akan sirna.
KEMBALI KE ARTIKEL