Pelaksanaan ibadah puasa yang diwajibkan kepada umat muslim tidak harus dipandang sebagai bentuk ritual tahunan, sekadar merubah waktu kebiasaan pola makan dan minum secara teratur. Namun lebih dari itu, puasa membawa dampak sosial yang lebih jauh, sanggup meruntuhkan sekat-sekat perbedaan kelompok, primordialisme, atau ideologis karena kewajiban berpuasa dalam konteks agama tidak ditujukan untuk kelompok sosial tertentu, tetapi bagi seluruh orang yang beriman. Puasa Ramadan jelas, semestinya mampu menghancurkan berhala-berhala ekslusivisme yang selama diluar Ramadan tumbuh merajalela. Ekslusivisme itu berbentuk perbedaan kelompok, mazhab, pemikiran, politik dan apapun yang membedakan antara “kita” dan “mereka”.
KEMBALI KE ARTIKEL