Dinamika politik PDIP jelas berbeda dengan Demokrat, Golkar, Hanura dan Gerindra. Tiga partai terakhir telah umumkan capres sebelum pileg. Memang ada sedikit friksi internal namun secara umum relatif solid. Sedangkan Demokrat belum umumkan capres karena menunggu hasil konvensi.
Jika Mega umumkan capres sebelum pileg maka dampaknya diyakini akan sangat fatal. Kultur politik PDIP memang cenderung bersifat patron dengan Mega sebagai pusatnya. Namun khusus menyangkut dinamika pencapresan 2014 agak khusus. Ini semua karena "faktor Jokowi".
Apabila capres diumumkan sebelum pileg berpotensi besar akibatkan pergesekan kader di internal PDIP, bahkan bukan tak mungkin terjadi perpecahan. Harus diingat, bahwa tidak semua kader PDIP dukung Jokowi sebagai capres. Sebagian tetap loyal dukung Mega sebagai capres.
Loyalnya kader pada Mega karena beberapa kemungkinan. Mungkin faktor loyal buta. Mungkin pula faktor Jokowi jadi ancaman bagi kader korup. Mendukung Mega lebih aman bagi kader korup. Maklumlah, PDIP partai lama dengan kultur politik lama, yang sebagian kadernya warisan masa lalu yang korup.
Akan ada kubu-kubuan yang kontraproduktif bagi partai dalam pertarungan menuju pileg dan pilpres. Satu kubu mendukung Jokowi. Dan kubu satunya lagi mendukung Mega. Siapa bisa jamin kubu-kubuan ini tidak saling habisi?
Potensi bahaya besar dari internal partai akibat kubu-kubuan tersebut akan diperparah oleh potensi besar bahaya dari faktor eksternal. Bahaya eksternal itu berupa diberinya ruang waktu yang lebih panjang bagi lawan-lawan politik untuk mengkondisikan serangan politik pada capres PDIP.
Tak boleh lupa bahwa PDIP saat ini bukan partai berkuasa. Lawan politik PDIP, terutama Demokrat, sangat mungkin memanfaatkan berbagai jalur kekuasaan politik di bawah pengaruhnya untuk menghancurkan lawan. Dua institusi penegak hukum (kepolisian dan kejaksaan) ada dalam pengaruh presiden. Belum lagi kekuasaan-kekuasaan lain yang rawan dimanfaatkan untuk menyerang capres PDIP.
Selain itu, kecerdasan dan kematangan politik Mega nampak lebih tinggi dibandingkan Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, dan Wiranto. Dalam hubungan ini, adalah sesat pikir pengumuman capres sebelum pileg, seperti dilakukan Golkar, Gerindra dan Hanura. Sebab, pileg bukan memilih partai, bukan pula memilih capres, melainkan memilih orang per orang caleg yang dicalonkan partai.
Tidak ada korelasi langsung antara diumumkannya capres sebelum pileg dengan kemenangan partai dalam pileg. Kalaupun partai menang hanya kebetulan saja dan itu tak signifikan. Adalah fakta, pemilih memilih caleg DPR dan DPRD, bukan memilih partainya atau capres partainya.
Itulah mengapa perolehan suara pileg Demokrat tahun 2004 hanya 7,45% dan tahun 2009 hanya 20,85% akan tetapi berhasil memenangkan pilpres (60,80% pada 2009 dan 60,62% pada 2004). Bukan soal SBY diumumkan sebagai capres sebelum pileg, karena buktinya Demokrat bukan pemenang dalam pileg. Melainkan elektabilitas partai dan elektabilitas capres adalah dua hal yang terpisah.
Elektabilitas parpol merupakan resultan dari elektabilitas orang per orang calegnya. Sedangkan elektabilitas capres murni berasal dari diri capres bersangkutan, terlepas apapun papolnya.
Apabila Mega umumkan capres sebelum pileg, di tengah euforia hasil survei yang selalu menempatkan Jokowi sebagai pemuncak, maka akan rawan pengaruhi para caleg PDIP jadi malas. Seolah-olah mereka akan menang hanya dengan "menempelkan" foto Jokowi dalam kampanyenya. Padahal, pileg itu memilih caleg, bukan memilih capres. Bisa-bisa kader tak mau kerja keras karena "faktor Jokowi".
Jelas keliru argumen bahwa suara PDIP akan terkatrol naik jika Jokowi diumumkan sebagai capres sebelum pileg, atau paling lambat Januari 2014. Sekali lagi, pileg bukan memilih capres, melainkan memilih caleg yang dicalonkan partai.
Taroklah saya (pemilih) suka betul dengan Jokowi. Lantas apakah saya otomatis akan suka juga dengan caleg yang dicalonkan PDIP di dapil tempat domisili saya? Belum tentu. Itu dua hal yang berbeda. Pada hari H pileg belum tentu saya coblos caleg PDIP, mentang-mentang capres PDIP adalah Jokowi. Bisa jadi saya pilih caleg Golkar karena saya nilai lebih meyakinkan.
(Sutomo Paguci)