Kemarin sudah aku ingatkan lewat bencana alam
Bumi terbelah, gunung membuncah, laut menghampiri daratan
Tak pernah kau sadari itu kawan, meski kau lewati siang dan malam
Mulut tak pernah kau jaga dari fitnah yang makin parah
Sampai kebenaran tak terlihat begitu jelas dipandang
Mengumbar kata yang tak pernah kau papah dengan langkah
Hingga bertebaran realitas semu yang tak punya sejarah panjang
Kita mulut-mulut itu harus tertutup rapat oleh masker
Tak hanya selapis tetapi berlapis - lapis
Sampai kapankah kita sadari peran mulut yang begitu angker
Tak ada yang bisa menepis kata yang telah terucap begitu manis
Tangan - tangan tak bertanggung jawab melukis sejarah seolah tanpa pikir
Kerusakan alam sepertinya tak pernah disadari telah kau ukir
Hanya demi kekakayaan kelompok atau bahkan untuk orang yang segelintir
Mungkin tangan - tangan itu hari ini tak mampu bicara untuk menyetir
Cucilah tangan - tangan itu agar terus tetap suci
Menjadi saksi kelak diakhir nanti
Tak perlu berjabat tangan meski kau dan dia sahabat sejati
Biarkan bumi yang memberi tanda untuk bertemu disuatu saat nanti
Mulut dan tangan sudah memberi arti tentang bahasa keharuman madani
Hingga suatu saat nanti kita bertemu tanpa ada yang harus ditutupi
Tapi bukan sekarang, sekarang kita sedang diajari dengan hati
Bersua tanpa sosialisasi, hingga kita harus menyendiri dalam sunyi
Berjumpa tanpa fisik yang hadir justru jiwa yang menembus dimensi
Komunikasi tanpa berkumpul karena perkumpulan hari ini sungguh tak berisi
Hanya transaksi untuk menumpuk hasrat yang tak bertepi
Hingga bumi tak lagi memberi maaf untuk hati yang pernah dinanti
Mungkin bumi sedang memberikan hikmah pada setiap insan
Agar tangan, mulut dan hati kita menyatu dengan bumi
Agar tangan, mulut dan hati bisa memberikan jalan
Jalan kepada pemilik bumi agar terus berserah diri
Mungkin ini cara terbaik untuk kita agar terus belajar
Belajar tentang suara hati yang tak pernah dihiraukan dalam pikir
Menapaki ruang dan waktu yang terus berlayar
Mengarungi samudera yang tak bertepi terbawa angin yang semilir