Mohon tunggu...
KOMENTAR
Healthy

Jadikan Budaya Malu Sebagai Identitasmu

7 Juli 2011   21:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:51 491 1
Wahai diriku malulah pada Allah Ketika kau melawan apa yang sudah ditunjukkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah Buah Hatiku merasa malulah kepada Allah Ketika kau menyontek dan tidak jujur dalam mengerjakan soal ujian dan tes Saudaraku muslim malulah kepada Allah Ketika kau tidak amanah dalam pekerjaanmu dan tindakanmu Saudaraku muslimah malulah kepada Allah Ketika mempertontonkan auratnya kepada pada orang yang tidak punya hak untuk melihatnya dan menikmatinya. Saudaraku para pejabat malulah kepada Allah Ketika menyalahgunakan kekuasaan terkait dengan profesimu. Saudaraku para pengusaha malulah pada Allah Ketika terlambat memberi upah karyawanmu, karena keberhasilamu juga dari jerih payah mereka. Saudaraku para penguasa malulah kepada Allah Ketika tidak bisa memberikan pelayanan yang baik pada rakyatnya Saudaraku semua jadikanlah budaya malu pada Allah Sebagai tameng dalam hidup ini agar tidak neko neko dan tetap di jalanNya Manusia makhluk yang sempurna dengan akal dan pikirannya, dapat memilih yang hak dan yang bathil. Jadikan malu sebagai penghias hidupmu seperti yang diajarkan Rasul Jadikan rasa malu sebagai rem yang ampuh agar tidak kebablasan hidupmu Jadikan rasa malu itu penuntun ke arah prilaku yang mulia Dengan keberadaan rasa malu maka bisa bedakan mana tuntunan mana tontonan Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus dijaga dan dipelihara dalam setiap hati dan tindakan kaum muslimin dan muslimah. Beberapa hadist yang behubungan dengan Malu:

  • Allah Dari 'Abdullah bin Mas'ud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Malulah kalian kepada dengan sebenar-benar malu". Kami berkata, "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami malu, Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)". upah SAW bersabda, "Bukan begitu, tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu itu ialah kamu menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, kamu menjaga perut dengan segala isinya, dan hendaklah kamu mengingat mati dan kehancuran. Barangsiapa menghendaki akhirat dengan meninggalkan kemewahan dunia, orang yang berbuat demikian, maka ia telah malu yakni kepada Allah dengan sebenar-benar malu". [HR Tirmidzi juz 4, hal. 53, no. 2575]
KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun