Mohon tunggu...
KOMENTAR
Diary

KUD

31 Agustus 2022   11:34 Diperbarui: 31 Agustus 2022   11:35 153 0
Pawai kemerdekaan itu menyedot penonton dari seantero Kuningan. Panas terik matahari terbayar dengan beragam tampilan peserta karnaval yang menghibur. Aku salah satu dari penonton yang berdesakan di sepanjang jalan utama kota, Jalan Siliwangi.

"Itu sapina," (Itu sapi-nya) seru saudaraku.

Dari kejauhan patung sapi di atas kol buntung yang dihias semakin mendekati tempat kami. Kehebohan berita Koperasi Unit Desa (KUD) Dewi Sri akan mempertontonkan tampilan fenomenal pada pawai agustusan sudah berlangsung jauh-jauh hari di kampungku. Aku berdecak kagum. Sebagai warga Desa Cisantana, keberadaan patung sapi yang mewakili desaku itu membuatku bangga. Siapa tidak bangga, patung sapi seukuran sebenarnya terlihat mirip sekali dan mendapat sambutan meriah dari penonton pawai.

KUD Dewi Sri mengisi lintasan sejarah desaku. Koperasi yang diketuai oleh Pak Kusmadio ini berhasil mengangkat citra Desa Cisantana sebagai salah satu desa dengan perkembangan pesat. Layanan yang ditawarkan KUD - peternakan sapi perah mendapatkan animo masyarakat yang cukup tinggi. Perlahan-lahan wajah desa kami berubah dari yang semula murni pertanian menjadi pertanian dan peternakan. Ladang dan sawah yang awalnya ditanami sayuran, padi dan palawija sebagian beralih fungsi ditanami rumput. Mengapa rumput? Karena para petani yang sudah beralih menjadi peternak membutuhkan pakan untuk ternak sapi perah mereka.
 
Sebagian dari para peternak ini mendapatkan bibit sapi perah dari pinjaman KUD. Bagi yang memiliki dana mereka membeli bibit atau anakan sapi perah dari peternak lainnya. Sapi-sapi yang mereka pelihara umumnya adalah sapi betina. Dari sapi betina inilah para peternak mendapatkan keuntungan memerah susu yang dilakukan setiap pagi dan sore. Susu ini lantas disetorkan ke gudang KUD, ditakar dan dicatatkan. Sebulan sekali para peternak akan 'gajian'  - mendapatkan pembayaran dari penjualan susu sapi ini. Semakin banyak mereka memelihara sapi perah, maka semakin besar peluang mereka mendapatkan 'gaji' yang tinggi karena volume susu yang disetor.

Aku mengalami memerah susu sapi. Bapakku beralih dari memelihara sapi daging ke  sapi perah setelah mendapatkan anakan sapi dari teteh(sebutan untuk nenek dari ibu). Karena itu pula aku mengalami memandikan sapi, membersihkan kotoran sapi juga memerah sapi. Diajari oleh bapak, sebelum memerah, kandang dan sapi harus dibersihkan terlebih dahulu. Ekor sapi harus diikat agar tidak mengganggu selama proses pemerahan. Keumumannya kandang sapi, lalat jamak ditemukan dan menjadi binatang pengganggu sehingga dengan kibasan ekornya sapi mencoba mengusir lalat. 

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun