Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan

Yuk Meriahkan Karnaval Wayang Dunia 2013

26 Agustus 2013   02:21 Diperbarui: 24 Juni 2015   08:49 288 2
Setelah dua tahun terakhir dihelat di luar negeri, akhirnya kebudayaan asli nenek moyang kita itu akan kembali diselenggarakan di Tanah Air. Ya, bagi Anda penggemar wayang atau setidaknya pernah menyaksikan serta mendengar kisah perwayangan patut bersyukur. Sebab, tidak sampai sepekan lagi akan ada Karnaval Wayang Dunia (Wayang World Puppet Carnival 2013) di Jakarta pada 1-8 September 2013. Tahun lalu acara ini berlangsung di Kazakhstan, dan sebelumnya di Ceko. Menariknya, Karnaval Wayang Dunia (KWD) ini merupakan yang terbesar yang pernah diselenggarakan. Sekitar 64 kelompok wayang dari 42 negara di seluruh dunia akan menyemarakkan acara yang bertujuan untuk mengenalkan wayang kepada khalayak ramai. Acaranya sendiri tersebar di tiga lokasi terkemuka di Jakarta, yaitu Gedung Teater Umar Ismail, Museum Nasional, dan Monumen Nasional (Monas). KWD terselenggara atas kerja sama Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) dengan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD). "Mudah-mudahan ini bisa jadi pemicu sebuah gerakan untuk kembali cinta budaya tradisi. Kemudian ada tujuan lain supaya seniman pedalangan di Indonesia tidak kecil hati karena ternyata dia tidak sendirian dan di belahan dunia lain wayang dilestarikan," kata Ketua Pepadi, Ekotjipto. "Kazakhstan, negara yang relatif lebih kecil dari Indonesia, masih 20 tahun umurnya, tapi bisa menyelenggarakan festival besar karena atensi pemerintah terhadap budaya besar sehingga dukungannya juga besar." Apa yang diungkapkan mantan Direktur Bank Indonesia itu beralasan. Pasalnya, sejak 2003 lalu wayang sudah dikukuhkan secara resmi sebagai Pusaka Budaya Dunia non Benda (World Intangible Heritage) oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) di bawah naungan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB). Wayang sejajar dengan Batik, Keris, Angklung, Tas anyaman khas Papua (Noken), dan Tari Saman yang diakui sebagai salah satu warisan Indonesia yang tak ternilai. Hal yang sama diungkapkan Ketua YAD, Arsari Djojohadikusumo, "Indonesia mempunyai kebudayaan yang luar biasa hebat dan besar. kalau tidak ada upaya-upaya berupa program-program sepeti ini budaya nusantara bisa semakin lama semakin dipinggirkan." Direktur Eksekutif YAD, Catrini Pratihari Kubontubuh, menambahkan,"Ini memang skala internasional, tetapi hal paling penting adalah mendekatkan wayang kepada generasi muda." Selain pertunjukkan wayang, baik kulit, golek, boneka, dan lainnya. Dalam KWD juga dimeriahkan berbagai kegiatan lainnya. Mulai dari ekshibisi, workshop, pameran, dan penjualan suvenir. Tak lupa, ada pementasan dari dalang-dalang ternama di Indonesia yang akan menanggap wayang kulit atau golek semalam suntuk di pelataran Monas. Uniknya, dari 64 kelompok wayang itu akan menampilkan beberapa wayang khas negaranya masing-masing, baik itu disebut "puppet" atau "marionette" seperti di Prancis. Sementara, Indonesia tentu tidak mau kalah dengan menyuguhkan berbagai jenis wayang, seperti Wayang Golek Sunda, Wayang Kulit Surakarta, Wayang Kulit yogyakarta, Wayang Kulit Purwa Jawa Timur, dan Wayang Kulit Purwa Bali. Informasi mengenai KWD ini saya dapat beberapa hari lalu dari sahabat Kompasianer yang bermukim di Inggris, Inge melalui share di jejaring sosial facebook. Kebetulan, saya sendiri sejak kecil sangat menggemari wayang, dan sempat beberapa kali menuliskannya di Kompasiana, baik fiksi, opini, maupun reportase. Hingga, kemarin siang, Sabtu (25/8) bersama sahabat Kompasianer lainnya turut menyaksikan pertunjukan di Museum Wayang, Jakarta. Saat itu terdapat lakon mengenai kesaktian "Gatot Koco" yang dipentaskan Dalang Tiga Bocah. Bagi saya, itu merupakan simulasi jelang dimulainya KWD pekan depan...

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun