Selepas berendam di kolam semalam, kepulan uap dari segelas teh panas membuyarkan lamunan saya. Basah di tangan saya terseka oleh kaos yang saya letakkan di kursi santai pinggir kolam, lalu lincah jemari saya mulai beraksi menggeser dan menghentak layar ponsel untuk membuka dan membaca berbagai postingan di sosial media dan situs opini. Masih ramai ternyata pembahasan mengenai salib, dibalik senyum saya yang seolah mengejek. Kepala saya pun bergeleng perlahan saat membaca komentar-komentar yang ruah ditumpahkan para netizen.
KEMBALI KE ARTIKEL