Dari tempatku berdiri ini, aku juga pernah menyaksikan Renata melompat kegirangan saat pulang sekolah. Duduk di ayunan, membuka surat yang ia temukan di laci meja belajarnya.
Ah, aku ingat rona merah wajahnya, tersimpul malu sambil menempelkan surat itu ke dadanya, seakan sedang memeluk sosok dibalik surat itu.
Suatu hari dimasa remajanya, derai tawa Renata yang ceria berubah menjadi tangis tertahan, membekap mulutnya sendiri.
Keluarga Renata yang bahagia sedang menjamu tamu petaka bahkan ayah ibunya tidak pernah lagi bermain bersama kami.
Aku menikmati hari-hari bersama Renata, Renatapun demikian. Tetapi Renata yang sekarang bukan lagi Renata kecil yang ceria. Hingga di suatu sore yang mendung, Renata mendatangiku, katanya ia ingin bermain denganku. Ia menjeratku dengan tali lalu menariknya, memastikan tali itu tidak akan terlepas lagi.
Renata memang susah ditebak, Ia bukannya bermain denganku malah bermain-main dengan maut. Ia menggantung di dahanku. Menggeliat kesakitan hingga akhirnya menyerah.