Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humor

92) Anekdot: "Tergantung Pribadi Masing-masing"

2 Januari 2011   07:07 Diperbarui: 26 Juni 2015   10:02 822 1

. . . Pada satu ketika, dan itu sudah lama; saya mulai begitu memperhatikan bagaimana kalimat ini suka muncul:

. . . “Ah, itu sih kembali ke pribadi yang bersangkutan.”

. . . “Pilihannya tergantung kita pribadi.”

. . . “Sesulit-sulitnya keadaan, kitalah yang menentukan. . .”

. . . “Hidup adalah pilihan, kita harus menentukan yang mana. . .”

. . . Dan kata-kata lain yang intinya masih seRT dan seRW dengan prinsip hidup tersebut di atas.

. . . Mungkin saya orang yang pesimis, atau jadi korban dari suatu keadaan. Mungkin juga karena terlalu seringnya berempati pada ketidakberdayaan orang lain dalam menghadapi situasinya yang sangat sulit. Sehingga jadi mempertanyakan validnya motto atau sembohyan di atas tepatnya pada situasi yang bagaimana?

. . . Saya bawa saja pada suatu contoh. Ketika itu saya menyayangkan kegagalan sistem dalam satu komunitas. Misalkan saja seorang Guru Bahasa Inggris menurut saya tidak berhasil dengan target pencapaiannya. Orang sekritis kita mungkin akan melihat ada berbagai hal yang bisa menjadi faktor penyebab. Tapi bagaimana kalau langsung diserobot:

. . . “Ah, itu tergantung siapa dulu muridnya. Buktinya tuh ada si Gunadi yang pintar ngomong bahasa Inggris. . .!”

. . . “ Selain dia, siapa lagi?” karena persoalannya ada begitu banyak murid yang gagal dalam pelajaran tersebut.

. . . Kalau hanya ada satu dua orang yang berbeda lebih baik, bukankah kita perlu memahami ada apa dengan yang banyak? Kita tentunya berbicara lebih jauh dari sekedar membanggakan satu dua pribadi yang ‘berhasil’. Boleh jadi yang sedikit itu sudah pintar sebelumnya, jadi tidak dipintarkan dalam sistem (pengajaran) tersebut.

. . . Ah, sudahlah ! Bicara tentang ini akan diperjelas dalam tulisan-tulisan berikutnya.

. . . Tapi sebelum pamit dari kelas itu, telinga saya sempat memperhatikan Guru ‘bahasa asing’ itu bertanya kepada muridnya yang paling pintar tadi, siGunadi.

. . . “Gun, coba apa artinya I don’t know?”

. . . “Saya tidak tahu, pak!!” jawab si Gunadi lantang.

. . . Bagus! Lalu guru itu bertanya kepada murid lain yang rata-rata bodoh. Kali ini pertanyaan diajukan kepada siUpin, murid yang paling bodoh bahasa Inggrisnya di kelas itu:

. . . “Kamu, Upin ! Apa artinya I go to school?”

. . . “Apalagi saya, pak !!”

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun