Seingat saya dulu jaman muda pernah punya koleksi surat cinta kira-kira 200 biji. Tersimpan dalam 5 boks. Selama surat-suratan 6 tahun. Kalo dibaca lagi suka ketawa sendiri deh. Lucu-lucu. Ada juga yg bikin air mata bercucuran saking sedihnya. Ada juga yg bikin malu sendiri karena keterlaluan saya nuduh dia yg nggak-nggak.
Setahu saya, setiap pembaca surat sangat terpengaruh kalimat terakhir. Makanya berhati-hatilah menulis surat pada kalimat penutup. Soale reaksi pembaca (dan si Doi) banyak bergantung kalimat penutup. Surat yg ditulis secara manual, elektronik, maupun SMS pada prinsipnya sama.
Misal kita buka tulisan dg basa-basi, lalu puji-pujian plus rayuan pulo kelapa. Ditutup dg, misalnya, "Aku kesel dg caramu kemaren jadi males sama kamu". Nah, kalimat penutup ini akan menghapus hangus semua kalimat di atasnya. Hampir pasti si Doi akan bereaksi balik nyerang Anda. Siap-siap Doi ngambekdeh!
Lain halnya kalo ditutup dg, misalnya, "Bagaimanpun kamu segalanya bagiku, sayang. I love you".... Apalagi dibumbui penutup yg bikin Doi rindu siang malam, misalnya, "Aku kangen banget sama kamu, cup cup emmh emmh...". Plus bonus pamungkas, misalnya, "dari kekasihmu yg selalu rindu, Rudi." Hampir pasti apapun kalimat-kalimat yg kurang menyenangkan di paragraf sebelumnya akan terlupakan oleh si Dia.
Makanya kalo mau kritik Dia atau ucapkan sesuatu yg kurang nyenengin, lebih baik tulis pada bagian tengah surat, jangan bagian penutup. Kecuali Anda memang ingin reaksi si Doi sengit and sewot. Dg kata lain Anda bisa atur dan kendalikan situasi bagaimana kira-kira reaksi si Doi.
Pengin si Doi mabuk kepayang, kan?
Selamat mencoba bagi yg belum tahu.
Ragile, 23jan2010
*NB: Pasti banyak di antara kita yg pengin tau kayak apa yach surat cinte made in SBY, Sri Mulyani, Antasari Azhar, Ruhut Sitompul, Boediono di tengah ruwet politik akibat skandal Cicak-Buaya dan Centurygate.... Kalo mereka baca surat cinta dulu2 mungkin pada adem yaaaaa?
*PS: I love you (nyomot lagu the beetles)