Meski berbeda dalam skala lingkup antara Tour De Singkarak yang berskala internasional, saya mendesain kegiatan Tour De Turatea kala itu berskop regional dan diselenggarakan secara periodik. Tujuannya disamping mengenal wilayah Jeneponto dari segi sejarah, juga potensi alamnya yang indah. Wilayah Jeneponto bagian timur dan selatan dihiasi pemandangan laut dan pantai yang landai, sedangkan wilayah Jeneponto bagian utara dan barat dihiasi perbukitan dan persawahan.
Namun, even tersebut terkendala oleh pemerintah Kabupaten Jeneponto yang kala itu dipimpin seorang berlatar belakang militer bernama Sirajuddin. Sang Bupati tidak berjiwa dialogis dan tidak membuka keran iklim keterbukaan pada kalangan mahasiswa. Ide besar Tour De Turatea akhirnya mandeg, gayung tidak bersambut dari pemerintah daerah. Ketika ide ini disampaikan kepada Ketua Kerukunan Turatea (KKT) yang kala itu dipimpin bapak Alim Bahcri yang sedang menjabat Ketua DPRD Sulsel yang notabene juga berlatar belakang militer, hasilnya sama.
Akhirnya, saya hingga kini tidak mendukung siapapun calon pemimpin daerah berlatar belakang militer menjadi kepala daerah termasuk kepala negara yang berlatar belakang militer. Disamping kurang dialogis, juga kepemimpinannya cenderung militeristik.