Ternyata tidak demikian. Tidak semudah yang saya bayangkan. Ternyata, sebagian besar pedagang kerupuk baik yang jalan kaki, naik sepeda, maupun yang mengendarai motor, harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pabrik yang memproduksi kerupuk itu.
Para pedagang kerupuk keliling, harus menjadi "pekerja" di pabrik kerupuk. Kalau mereka bukan pekerja, maka tidak bisa mengulak kerupuk untuk dijajakan keliling. Anehnya, walau terdaftar sebagai "pekerja" di pabrik tersebut, mereka tidak menerima gaji.
Rumit memang membayangkannya. Ada pekerja tapi tidak diberi upah. Pendapatan tukang kerupuk keliling yang bekerja di pabrik itu, ya hanya dari keuntungan kerupuk yang dijualnya. Sementara tenaga yang dikeluarkan saat bekerja di pabrik, tidak diperhitungkan.
Seperti dituturkan seorang pedagang kerupuk keliling, Mochamad Idham. Menurut dia, kalau dirinya tidak bekerja di pabrik kerupuk, maka sulit untuk bisa mengulak kerupuk dan dijual secara keliling. Pabrik mengeluarkan produksinya hanya untuk para pekerja. Orang luar tidak bisa.