Mohon tunggu...
KOMENTAR
Travel Story Artikel Utama

Segelas Teh, Sejuta Kenangan di Peristirahatan Sang Maestro

28 Juni 2012   01:04 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:28 984 13

Belumlah lengkap menulis tentang Raden Saleh Sjarif Bustaman tanpa menjenguk tempat peristirahatan terakhirnya di Desa Bondongan, Bogor. Sabtu pagi itu, saya bangun agak kesiangan karena malamnya pulang larut selepas menyaksikan konser puja-puji di Usmar Ismail, Jakarta. Jam dinding di kamar menunjukkan pk 08 tepat, dikurangi 10 artinya pk 07.50 (jamnya sengaja disetel lebih cepat 10 menit). Lasma yang bersemangat menerima ajakan bermain ke Bogor mengirimkan sms dirinya sudah otw ke stasiun Cawang. Setelah bersusah payah melawan rasa kantuk dan mengumpulkan nyawa, akhirnya badan ini bisa diajak bangun. Mengheningkan cipta sejenak mensyukuri napas hidup yang masih dikaruniakan Sang Khalik berikut pagi yang cerah sebelum menggeret paksa kaki ke kamar mandi.

Di stasiun Bogor, kami diserbu para calo angkot yang berusaha menggiring siapa saja yang terlihat keluar dari stasiun untuk naik ke angkutan yang sudah sesak. Tip bagi pengguna jasa angkutan umum, bila berada di keramaian seperti stasiun kereta, terminal bis atau pangkalan angkot pasang tampang pede jangan tergoda tawaran abang-abang calo. Tapi jangan ke-pede-an bisa nyasar naik angkot yang berlawanan arah dengan tujuan hahaha. Super yakin karena tak satu pun orang yang kami tanyai tahu lokasi yang kami tuju, saya mengajak Lasma untuk naik angkot dari seberang stasiun.

"Bang, lewat Raden Saleh?"

"Iya."

"Makam Pahlawan?"

"Iya neng."

Sebenarnya saya melihat keraguan di mata sopir angkot trayek 03 jurusan Bubulak - Baranangsiang, entah kenapa kami tetap naik. Lima menit duduk di angkot, saya mulai memperhatikan jalanan yang dilalui. Meski belum pernah ke sana, tapi ada rasa gak nyaman yang membuat tangan merogoh ransel mencari HP dan menelepon Pak Isun. Dodol Garut! salah naik angkot! Harusnya naik 02, tapi server di otak sepertinya sedang ngebul sehingga angka yang dimunculkan oleh mesin pencari memori adalah 03. Kami turun dipadatnya antrian kendaraan di Gunung Batu, menyeberang jalan menunggu angkot trayek 14 sesuai info Pak Isun yang menuju Empang. Tak lupa saya mengomeli sopir sok tahu yang masih terus membela diri mengatakan, "Eeee ... di ujung sana juga aya Raden Saleh, Neng."

Baru sampai di seberang HP bergetar, "Neng, naik angkot dari lampu merah ya, tanyakeun ka Empang, nomor opat belas minta diturunkan ti Raden Saleh, habis tanjakan yang ada tower." Baru dimatiin eh bergetar lagi,"Angkotna jangan yang ka Laladon, jangan salah lagi bilang ka Empang ya." Saya mengiyakan aja, padahal saat itu tak tampak mana lampu merah, tower apa yang dimaksud hanya terbayang liwat tanjakan ada gang kecil yang hanya muat dilalui motor di kanan. Sebagai pejalan saya menikmati setiap perjalanan meskipun nyasar karena terkadang saat kesasar itu menemukan hal-hal yang baru dan unik. Pak Asep sopir angkot yang kami tumpangi lebih informatif, ramah dan asik diajak ngobrol. Di tengah jalan doi aplusan dengan rekannya yang lebih berumur dan diam seribu bahasa. Tinggal kami bertiga di angkot, hening hingga kendaraan berhenti setelah tanjakan, "Neng, gang Raden Saleh di seberang."

Makam Raden Saleh sempat "hilang" dan baru ditemukan kembali pada 1923 oleh Adung Wirjaatmadja  yang kemudian merawatnya dengan sukarela karena berada di lokasi pemakaman keluarga Raden Panoeripan. Pada 1953 makam direstorasi dan dibuka oleh Ir. Soekarno, Presiden R.I. kala itu dengan upacara sederhana. Makamnya diberi nisan dengan penambahan prasasti di sisi kanan makam rancangan Friederich Silaban arsitek yang juga merancang Masjid Istiqlal, Jakarta. Raden Saleh,putra dari Sayid Husen bin Alwi bin Alwal dan Raden Ayu Sarifah, lahir di Terboyo, Semarang. Tanggal kelahirannya tidak jelas, dan di prasastinya tercantum kira-kira 1813/1814. Raden Saleh menghabiskan masa kecilnya di Terboyo dibawah pengawasan pamannya Raden Adipati Surohadi Menggolo, Bupati Semarang yang kemudian mengirimnya belajar kepada para pemimpin Belanda di Batavia pada usia 10 tahun. Atas prakarsa Galeri Nasional, pada 2007 komplek Makam Raden Saleh dipugar untuk kedua kalinya dengan menambahkan bangunan saung yang dilengkapi dengan ruang kecil sebagai ruang istirahat penjaga serta toilet.

Raden Saleh mendapatkan beasiswa dari van der Capellen, Gubernur Hindia Belanda (1819-1826) dan dikirim ke Belanda untuk mendalami seni lukis pada 1829. Selama lebih dari 20 tahun melanglang buana di benua Eropa, pada 1851 Raden Saleh kembali ke Batavia bersama pasangannya wanita keturunan Belanda yang kaya raya. Mereka menempati rumah yang megah dengan halaman sangat luas di kawasan Cikini (sekarang RS Cikini). Halaman belakang rumahnya yang cukup luas dijadikan kebun binatang, dan sekarang telah menjadi Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Tahun 1875, Raden Saleh berangkat ke Belanda bersama istrinya Raden Ayu Danurejo. Tiga tahun berkelana di Eropa, mereka kembali ke Hindia Belanda dan menetap di Bogor pada 1878 karena kesehatan istrinya yang menurun setelah menjalani operasi di Paris. Pada 23 April 1880, Raden Saleh meninggal karena pembekuan darah atau trombosis, disusul istrinya pada 31 Juli 1880.

Tak banyak yang tahu informasi tempat ini, sama halnya tak banyak yang tahu siapa Raden Saleh. Gagap sejarah yang menyebar di masyarakat menjadi sebuah momok yang seharusnya bisa dikikis lewat pengenalan dini atas tokoh-tokoh sejarah bagi generasi muda. Di salah satu sudut Saburasa (=Saung Raden Saleh), bertiga pak Isun kami duduk melingkar menikmati semilir angin menuntaskan obrolan siang ditemani segelas teh tawar dan cemilan kue kering. Sepanjang pengalaman saya bertandang ke makam tua atau ke pemakaman mana pun, baru kali ini saya mendapati tuan rumah menyuguhkan makanan buat tamunya. Itu terjadi hanya di tempat peristirahatan sang Maestro, Raden Saleh.[oli3ve]

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun