Mohon tunggu...
KOMENTAR
Fiksiana Pilihan

Salam Terakhir: 3. Kriteria Cinta

21 Januari 2022   08:07 Diperbarui: 28 Januari 2022   06:56 270 3
Semester pertama telah ia lalui dengan nilai yang memuaskan. Waktu liburan akan ia isi dengan kesibukan bekerja tanpa ada izin cuti sedikitpun seperti yang ia lakukan ketika dalam masa ujian karena ia butuh waktu untuk fokus menghadapi ujian.

Hubungan pertemanannya dengan Mega berjalan baik. Selalu pulang bersama-sama setelah jam kuliah selesai. Kadang mereka menyempatkan diri singgah ke taman untuk sekedar duduk berdua dan saling berbagi cerita. Semuanya berjalan seperti biasa. Mike sama sekali tak ada perasaan lebih pada Mega - ia sudah seperti saudari semata wayang bagi Mike, selalu ada di saat Mike butuh bantuannya. Tugas kuliah pun kadang dikerjakan bersama-sama.

Tapi Mike tak tahu seperti apa perasaan Mega padanya. Sama sekali ia belum melihat ada tanda-tanda bahwa Mega menyimpan rasa suka padanya. Mega memang selalu pandai menyembunyikan perasaannya - seperti waktu itu ketika ia harusnya kecewa ketika Mike sudah janji akan mengantarnya pulang tetapi karena Mike terburu-buru hingga Mike meninggalkannya pulang sendirian dengan angkot. Ia sama sekali tidak menunjukkan itu pada Mike.

Dan hari ini mereka berjanji untuk bertemu di taman tempat biasa mereka sering menghabiskan waktu berdua menghilangkan segala lelah mereka dengan tugas kuliah.

"Mike, boleh aku bertanya sesuatu ?" Mega memecah keheningan. Mike menampakan wajah gagap seketika, dan menatap bisu wajah Mega sebelum menjawabnya. Mega tidak seperti ini biasanya. Tidak perlu menunggu persetujuan Mike ketika ingin bertanya.
Mereka selalu duduk berhadapan ketika berkunjung ke taman ini. Tidak seperti para pengunjung lain yang kadang duduknya bersebelahan agar lebih mudah ketika ingin menyenderkan kepala di bahu kekasih mereka.

"Ya boleh. Ada apa ? Kamu tidak harus meminta persetujuanku bila ingin bertanya."

"Apakah kamu suka memilih-milih siapa yang akan kamu jadikan pasangan hidupmu ?" Tanya Mega mengagetkan Mike.  Mike mengernyitkan dahi kebingungan. Mega menyadari hal itu.
"Maksudku tipe perempuan impian kamu itu seperti apa ?" Mega bertanya lagi, blak-blakan saja pertanyaannya. Tidak banyak basa-basi. Mega memang selalu seperti itu - tidak bertele-tele.

Mike diam sejenak. Awalnya bingung, mengapa Mega bertanya seperti itu ? Apakah firasatnya benar bahwa Mega ada rasa suka dengannya ?

"Aku hanya ingin tahu saja kira-kira tipe perempuan yang kamu sukai, yang akan kamu pilih untuk menjadi pendamping hidup kamu itu seperti apa ? " Lanjut Mega lagi setelah Mega menyadari bahwa Mike sedang bingung dengan pertanyaannya. Benar, Mike semakin bingung dengan pertanyaan Mega. Mike sama sekali belum berpikir soal itu.

"Aku tidak tahu. Maksudku, untuk saat ini aku belum memikirkan soal itu. Aku masih mau fokus dulu dengan kuliahku," jawab Mike sekenanya berusaha agar jawabannya tidak menyinggung perasaan Mega. Mike sudah benar-benar yakin bahwa Mega memendam rasa padanya dengan pertanyaannya.

"Oh, begitu. Aku maklumi itu Mike. Aku juga sama - belum memikirkan soal itu," respon Mega cepat menanggapi jawaban Mike tadi.

"Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu  ?" Kali ini Mike yang bertanya pada Mega untuk memastikan apa alasan Mega bertanya seperti itu padanya.

"Ya, aku hanya ingin tahu saja. Kalau saja nanti Tuhan mengizinkanku untuk terus bersamamu, aku harap apa yang kamu impikan pada diri gadis yang akan mendampingimu sudah kau temukan dalam diriku," jawab Mega jujur.

Mike seperti disambar petir. Apa yang Mike pikirkan sebelumnya benar, Mega memang berharap bisa jadi pendamping hidupnya nanti. Mike menjadi gugup. Diam membisu. Tak bisa berkata-kata lagi. Ia sungguh kaget mendengar jawaban Mega yang sangat jujur mengatakan semuanya.
Lalu aku harus bagaimana ? Apakah aku harus mengharapkan hal yang sama seperti Mega ? Ahh, ini benar-benar bukan waktu yang tepat untuk aku memikirkan soal ini, batinnya.

"Kenapa, kamu keberatan jika aku berharap akulah gadis yang kelak memenuhi semua kriteria kamu dan menjadi pendamping hidup kamu ?" Tanya Mega tiba-tiba, menghentikan kegusaran Mike. Ia gagap. Tak tahu harus berkata apa.

"Aku, mmm. Aku, aku. Aku tidak tau," jawabnya gugup. Mega diam saja menunggu kelanjutan jawaban Mike.

"Aku tidak tahu Mega. Aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini. Aku rasa terlalu cepat," bicaranya agak cepat. Tapi nada Mike santai agar tidak menyinggung perasaan Mega.

"Kamu tahu, kamu sudah aku anggap seperti saudariku sendiri. Kamu telah menemaniku selama satu semester, selalu ada disaat aku membutuhkan bantuanmu, selalu mengerti denganku, jadi aku rasa aku tak pantas jika aku kemudian memiliki perasaan lebih padamu. Aku hanya ingin engkau menjadi saudariku. Menjadi sahabatku. Tidak lebih dari itu, Mega," Mike menatapnya. Pikirannya jadi kacau. Mike harap jawabannya tidak melukai perasaan Mega. Mike benar-benar menganggapnya seperti saudarinya sendiri. Itu saja.

Mega diam di hadapan Mike. Tatapannya tajam.Tapi tak ada aura kekecewaan di wajah Mega. Mega memang pandai menyembunyikan perasaannya tetapi sekali ketika ia ingin mengungkapkannya, ia selalu blak-blakan. Tidak basa-basi.

"Aku mengerti. Aku pahami itu Mike. Aku pun hanya mengatakan kalau saja Tuhan menghendaki, ya apa boleh buat ? Bukankah begitu ? Aku pun mengganggapmu seperti saudaraku sendiri. Kamu baik, perhatian, selalu ada disaat aku membutuhkanmu, selalu memastikan aku pulang dengan selamat sampai di kostku, aku hargai itu. Aku pun tak menginginkan bahwa hubungan ini akan terus berlanjut dan aku yang akan menjadi pendampingmu. Maaf jika aku membuatmu menjadi tidak nyaman denganku," jawab Mega tenang. Ia benar-benar pandai menyembunyikan isi hatinya.

"Ya, aku harap kamu mengerti Mega. Aku tak mau hubungan baik kita hancur karena di antara kita ada perasaan saling suka. Aku mau kita tetap jadi teman, jadi sahabat. Kamu seperti saudariku dan aku seperti saudaramu," jawab Mike santai, berusaha menjelaskan pada Mega agar dia benar-benar tidak tersinggung.

Mereka kembali diam. Mike memegang botol minumannya, berpura-pura memainkannya agar tak terlihat gugup akibat pertanyaan-pertanyaan Mega yang menyentak tadi. Semoga saja Mega benar-benar mengerti dan tidak kecewa.

Mereka menghabiskan malam itu dengan berbagi cerita tanpa memikirkan lagi tentang kriteria gadis idaman calon pendamping hidup sebelum Mike mengantarnya pulang ke kostnya.

*****

Mike merebahkan tubuhnya di ranjang. Tangan kanannya ia letakkan di atas dahi. Mike tidak ingat lagi bahwa kebiasaan buruknya itu dilarang oleh ibunya, katanya pamali  jika meletakkan tangan di atas dahi.

Pikirannya menerawang sangat jauh - pada pertanyaan-pertanyaan Mega yang benar-benar membingungkan. Tapi dapat ia pastikan, feelingnya benar bahwa Mega memendam rasa dengannya. Mike mencoba mencerna setiap kata yang ia tanyakan terutama pada kata kriteria.

Apakah iya, mencintai harus ada kriteria?

Bagi Mike, gadis yang akan ia jadikan pendampingnya adalah orang yang tulus mencintai dan menyayanginya, menghargai dan menghormati ibunya, mau menerima segala kekurangan hidupnya, dan mau berjuang bersama-sama dengannya. Itu saja.  Yang lain-lain akan ditambahkan dalam perjalanan hidup rumah tangga nanti. Mike seketika kembali mengenang Laura, gadis yang yang pernah menunjukan itu semua padanya dulu. Tetapi hanya Mike yang tahu soal Laura. Ia tak menceritakannya pada siapapun.

Mike menggerutu sendiri lalu membalikan badannya meraih bantal guling dan memeluknya erat.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun