Mohon tunggu...
KOMENTAR
Filsafat

Gelang 'Permata' Itu

23 Desember 2009   17:15 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:48 370 0
Tuliskan apa yang kamu rasakan Rasakan apa yang kamu pikirkan Pikirkan apa yang kamu tuliskan Dulu kadang aku curiga pada diri sendiri  bahwa aku manusia berhati badak. Namun tatkala aku menemukan dirinya, semua berubah. Hembusan cinta yang tak pernah padam merubah bentuk hatiku yang datar menjadi  bentuk daun waru. Aku tak perlu lagi meminjam hati Nabi Adam untuk bisa merindu Siti Hawa. Tak butuh pikiran Majnun yang gila mencintai Laila. Roman Romeo dan Juliet tak perlu kukhatamkan agar bisa 'sedikit' mengerti makna cinta. Kini tinggal gelang permata (imitasi) yang biasa melingkari tangan indahnya yang bisa kupandang. Kutemukan dirinya dibalik kilauan berpendar. Pendaran indah namun tak menyilaukan. Ada kebeningan yang tak lekang oleh debu. Keindahan yang kuat menembus kalbu. Memancarkan larik-larik sinar kasih yang tak bersyarat. Aku membawanya kemana kakiku melangkah. Gelang itu selalu menghuni kotak kecil dalam ranselku. Sebagaimana dirinya menempati lobus terindah dalam hatiku. Malam ini kembali kupandangi gelang itu. Kubiarkan bertengger di atas laptop. Berharap mukjizat untuk melihat wajahnya tersenyum dilingkaran gelang. Senyuman yang membuat hatiku seakan terendam dalam telaga damai. Aku hanya bisa mendengar bisiknya untuk menghalau sepi hati yang terpenjara. Memahami cintanya untuk menepis fantasi abnormal yang terbersit. Membayangkan dekapanya yang bagai selimut yang diambil dari langit ketujuh. Menuntunku dalam mimpi indah tak berujung. Merenggut cinta bersamanya.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun