Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerbung Pilihan

Dia Yang Kumaafkan (Bagian 8)

26 Juni 2023   07:10 Diperbarui: 26 Juni 2023   21:01 216 18
Berapa menit kemudian Ben's bicara, "Bram, yang dihadapi Mila masalah berat, dia nggak butuh dukungan moral atau semangat semata, kalau dari surat yang terakhir itu, Mila memerlukan tindakan nyata agar dia nggak semakin terpuruk Bram."

"Mila nggak boleh dibiarkan menanggung beban sendiri, aku yakin dia nggak kuat Bram", ujar Tigor untuk meyakinkanku.

Aku diam seribu bahasa, aku merasa diarahkan kedua sahabatku ini untuk menuju satu titik.

Tigor mulai mendesak, "Bram! Masalah besar, harus pula diatasi oleh orang-orang yang berjiwa besar, bukan seperti Firman atlit gulat, tapi kabur dari gelanggang, kau paham kan maksudku?!"

Saat itu jantungku berdegup kencang, "Jadi aku harus bagaimana?!"

Dengan suara lirih tapi tegas Ben's menjawab, "Bram, satu-satunya jalan kamu harus berani ambil keputusan besar untuk menikahi Karmila!

Aku tahu ini bukan kesalahanmu, tapi aku yakin Mila sangat membutuhkanmu Bram."

Saat itulah aku meneteskan air mata, karena apa yang mereka katakan benar...sejalan dengan keputusanku untuk menikahi Karmila, walaupun belum sempat kuutarakan pada mereka berdua.

Aku lega, sebenarnya aku hanya butuh dukungan mereka, "Baik, aku akan menikahi Mila...beri aku kesempatan untuk bicara dengan kedua orang tuaku."

Tigor dan Benyamin berbarengan menepuk-nepuk pundakku.

Dengan air mataku yang masih menetes, aku merasakan ada kehangatan dalam persahabatan ini, ada getaran semangat dukungan yang disalurkan mereka berdua.

Walaupun tanpa kata-kata...
***

Ibu menangis mendengar aku ingin menikahi Karmila, Ibu ku pantas menangis.

Karena aku bicara sejujurnya atas kejadian yang menimpa teman sekolahku ini.

Ada rasa penolakan dari beliau, tapi disatu sisi, Ibu juga seorang wanita, yang dapat merasakan beratnya masalah yang ditanggung Karmila dan keluarganya.

Dan yang terpenting beliau tahu, aku sangat mencintai Karmila.

Akupun tidak peduli dengan masa lalu Karmila, karena hampir semua manusia mempunyai catatan kelam, dan aku yakin, semua akan hilang dibunuh oleh waktu, semoga...

Sedangkan Ayah tidak banyak kata-kata, aku sangat bangga dengan kedua orang tuaku ini.

Ayah sudah jauh berjalan melompati waktu, beliau sudah banyak melihat bahkan menghadapi masalah-masalah besar, dalam rentang waktu kehidupannya.

Beliau hanya menasehatiku, "Seorang laki-laki, kalau sudah mengambil keputusan jangan ragu-ragu, kalau itu maumu dan kamu merasa nyaman dan menurutmu benar, Ayah mendukung keputusanmu."

Setelah mendengar kata-kata Ayah, aku menangis, aku mencium tangan beliau, aku pun memeluk Ibu.

Ibu yang membesarkanku, Ibu yang sabar, Ibu yang selalu memaafkan kesalahan anaknya...
***

Benyamin dan Tigor dalam beberapa hari ini bolak-balik kerumahku.

Mereka berdua ingin memastikan respon dari kedua orang tuaku.

Sedangkan Karmila sudah tahu lewat surat yang kutulis, tentang keinginanku untuk menikahinya.

Karmila tidak membalas suratku, seluruh keluarganya hanya menunggu kedatangan kedua orang tuaku, untuk bicara dan memastikan hal tersebut.

Saat itu ada perjanjian antara kedua orang tuaku, dan pihak keluarga Karmila.

Setelah menikah, aku dan Karmila harus menunggu dulu kelahiran anak yang dikandungnya.

Dan juga harus melewati masa 'Iddah', selama 4 bulan 10 hari. Sebab inilah, aku belum boleh serumah dengan Karmila.
***

Saat didepan Penghulu, Karmila menangis...menangis karena ternyata masih ada orang yang mau memaafkannya, yang berani pasang badan untuk melindunginya.

Teman sekolahnya, seorang remaja yang berfikir dewasa, Bramantiyo namanya...

Tangannya kupegang erat, dia telah syah menjadi istriku, ia pun begitu, ia menatapku dengan pandangan yang sangat dalam.


K A R M I L A...

au telah kembali ku miliki...

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun