Mohon tunggu...
KOMENTAR
Drama Artikel Utama

Bila Malam Bertambah Malam

22 April 2015   10:54 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:48 62 2
Sebuah teras rumah. Hanya ada dua kursi.  Satu kursi kosong.  Di kursi yang satunya  lagi duduk seorang anak kecil.  Kakinya di angkat.  Seperti kedinginan.

Anak  :  Sudah malam.

Terdengar musik dangdut lamat-lamat.  Tidak terlihat orangnya.  Tapi suara musik dangdut itu semakin lama semakin keras.  Seperti para pedagang keliling yang biasa keliling perumahan.  Lamat-lamat, suara musik mennurun seperti sudah melewati rumah kita.

Anak :  Pulang tidak, ya?

Seperti berbicara dengan dirinya sendiri.  Kepalanya dilongokkan ke depan.  Mengucek-ngucek matanya seperti sedang memperjelas penglihatannya.

Anak  :  Bukan!

Lalu anak kecil itu duduk lagi.  Menarik kakinya, seperti kedinginan.  Matanya masih melotot memperhatikan jalan yang di depannya.

Anak  :  Kapan pulang?

Suaranya semakin serak.  Matanya berkaca-kaca.  Tapi, si anak terlihat berusaha untuk tidak menangis.

Anak  :  Semoga tidak macet lagi.

Anak bangun.  Lagi-lagi, melangkah ke depan.  Ke arah jalanan.  Tapi, mukanya kecewa kembali.  Terlihat bayangan seseorang melintas.

Orang : Masih nunggu, Le?

Anak : Iya.

Orang : Ibumu belum pulang juga?

Anak : Mungkin macet.

Orang : Kamu sendirian?

Anak : Iya, Oom.

Orang : Udah makan?

Anak itu hanya tersenyum.  Bayangan berlalu.  Dan, malam kembali sepi.  Anak itu kembali duduk di bangku.  Seperti menggigil.  Hingga akhirnya tertidur.  Ibunya belum juga pulang.

SELAMAT HARI KARTINI......

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun