Indahnya Ibu Kota, tak se indah nasibku, gumamku dalam hati. Sambil bersungut-sungut aku melangkah di lalu lalangnya kendaraan yang lewat. Siang itu kutelusuri trotoar jalan. Teriknya matahari tak kuhiraukan. Sepatuku penuh debu, entah berapa kilo aku berjalan. Uang disaku tersisa lima ribu, uang satu-satunya yang ku punya. Itu pun terlihat kucel dan kusam seperti diriku.
KEMBALI KE ARTIKEL