Beberapa waktu lalu seorang kawan yang hebat meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Ia meninggal kecelakaan dalam perjalanan pulang setelah mengajar mengaji. Secara manusiawi saya merasa sangat sayang, bahwa ia yang bersahaja, baik perangainya, lagipula cerdas dan religius, (harus) meninggal pada usia relatif muda; bukan para brengsek, koruptor, de-ka-ka yang justru nggak mampus-mampus! Tapi bagaimanapun saya sangat percaya yang namanya “takdir”, harus ikhlas.