Dilansir dari detik.com, Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilaksanakan pada 5-8 Agustus 2020 menyebutkan, 92% siswa dan mahasiswa di Indonesia mengalami kendala sepanjang penerapan PJJ. Ada sekitar 24% warga tidak memiliki akses internet, selebihnya 76% memiliki akses internet. Kemudian terdapat 67% masyarakat terbebani dengan biaya yang dikeluarkan pada program pembelajaran daring atau belajar dari rumah selama pandemi korona. Hal ini membuktikan bahwa sistem penyebaran internet di Indonesia harus ditingkatkan kembali.
Berdasarkan temuan survei tersebut, 50% responden menjawab cukup berat, 17% responden menjawab sangat berat dan 26% sedikit berat. Sedangkan responden yang menjawab tidak berat hanya 6%, lalu tidak menjawab 1%.
Dengan adanya perubahan metode belajar ini, maka terdapat  dampak positif dan negatifnya tersendiri. Contoh dampak negatif diterapkannya sistem PJJ ini diantaranya, ancaman putus sekolah, penurunan nilai belajar, anak berpotensi menjadi korban kekerasan rumah tangga, keterbatasan alat komunikasi dan kuota internet sebagai fasilitas penunjang belajar daring, anak cenderung malas belajar, anak kurang bersosialisasi.
Diluar dari dampak negatif sistem PJJ, terdapat pula dampak positif diantaranya, anak memiliki banyak waktu di rumah bersama keluarga, metode belajar yang lebih variatif, anak bisa belajar beradaptasi dengan perubahan, sebagian anak merasa nyaman belajar dari rumah karena waktunya lebih fleksibel.
Luluk Syifa Rahmawanti
SMK Negeri 1 Kendal