Tulisan ini adalah tulisan pertama saya mengenai sosok orang yang fenomenal, disitulah saya bisa dibuat menangis tanpa banyak alasan, dan disitu pulalah saya merasa hati saya tersentuh untuk introspeksi diri, hari itu 5 oktober 2013, saya baru pertama kali menginjak bumi Jombang-Tebu Ireng , sebuah desa dimana mantan presiden ke-4 kita dimakamkan, teman-teman semua pasti tau siapa beliau. Yap benar, beliau adalahAbdurrahman Wahid atau akrab disapa Gusdur. Pernah suatu hari saat sedang boomingnya film Sang Kyai,dimana tokoh utama dalam film tersebut adalah KH.Hasyim Asy'ari, merupakan kyai kharismatik yang menyulut rasa kebangsaaan santri-santrinya di Tebu Ireng yang akhirnya menjalar ke masyarakat umum yang ujung-ujungnya menyulut terjadinya perang tanggal 10 November 1945 yang puncaknya terjadi perobekan bendera Merah Putih Biru menjadi Merah Purih di Hotel Oranye Surabaya. Dan pada saat itu juga Kang AP (kekasih tercinta) menceritakan bahwa Gusdur bisa disebut juga seseorang yang menjadi saksi saat ada rapat atau saat mengatur strategi politik di zaman itu. Ziarah dimakam GusDur hari itu membuat saya benar-benar merinding. Duduk disebuah pendopo, dengan formasi Kang AP berada lebih kedepan dan saya berada pada sisi kiri belakang. Awalnya saya hanya membaca doa untuk beliau, selesai itu satu rombongan jama'a bapak-bapak datang, saya tetap pada posisi saya dan saya mendengar bapak-bapak tersebut melantunkan doa, dan saya ingat betul ketika imam do'a mulai melantunkan beberapa ayat surat yasin, hati saya tiba-tiba haru dan dengan otomatis bibir saya mulai ikut melantunkan doa yang dibacakan oleh imam. Tiba-tiba saya semakin terisak dan saya semakin jauh menintrospeksi diri saya, jadilah orang baik, berguna, maka kita akan mulia hidup serta mati kita. Betapa luar biasanya saya yang duduk selama sekitar satu jam, sudah ada dua rombongan yang melantunkan doa untuk beliau. Hingga selesai ziarah saya masih tergiang dan semakin lumayan jauh mempelajri sisi Gusdur, saya semakin tanda tanya, hingga saya menemukan satu puisi ini, saya menemukan satu puisi ini disalah satu kabar berita, yan mana puisi ini dibacakan untuk GusDur
pada puncak perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2561 di Jakarta Convention Center, yang dihadiri oleh Presiden Susilo.B.Y. Dan berikut cuplikan puisinya. Selamat Beristirahat Gus, Semoga Sampeyan Tidak Melupakan Kami
KEMBALI KE ARTIKEL