Mohon tunggu...
KOMENTAR
Pendidikan Artikel Utama

Anak-anakku, Sahabatku

9 Mei 2015   00:09 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:14 15 0
Buuuu, salim,,salim! Sambil tertawa aku pura-pura menghindar. Tetapi beberapa gadis itu mengejar & segera memeluk aku. Bukan hanya memeluk, tetapi mereka segera menciumi pipiku. Ah,,,,,pipiku habis oleh ciuman Mia, Sherly, Khusnul, dan teman-temannya.

Anak-anakku kelas 9A tahun ini memang benar-benar heboh. Keceriaan mereka, kehebohan mereka, kebandelan mereka sering membuat teman-teman guru jengkel. Bahkan akupun kadang-kadang jengkel dengan mereka.  Tetapi mereka selalu mampu membuat aku tertawa lepas bersama mereka.

Pernah suatu hari, karena aku lihat anak-anak jenuh, kuajak bermain tebak kata. Saat itu aku tengah mengajar tentang bangun ruang sisi lengkung. Setiap kelompok membuat 10 kata yang ada hubungannya dengan tabung. Setelah terkumpul semua, aku menunjuk seorang anggota kelompok untuk memperagakan kata yang terambil untuk di tebak anggota kelompok yang lain. Anakku Bayu, si heboh yang selalu bikin rese' kelas itu ternyata begitu mahir memperagakan setiap kata yang terambil. Ada kejadian lucu yang membuat aku selalu teringat dengan kejadian itu. Ada salah satu anakku bernama Rama. Anaknya pintar dan pendiam serta pemalu sekali. Ketika dia ditunjuk oleh anggota kelompoknya untuk memperagakan, dia pun maju di depan kelas. Tetapi, sejenak dia tertegun sambil memberikan padaku kartu yang diambil, "Kaleng susu". Tetapi kemudian dia segera memperagakannya, dan membuat heboh teman sekelasnya. Bisa membayangkan apa yang dia peragakan ketika harus menunjukkan kata itu? Untungnya, semua teman kelompoknya bisa segera menjawab.

Hal lain yang membuat aku terkesan adalah rebutan mereka. Kalau anak-anak perempuan selalu berebut untuk mencium aku setiap pagi, anak-anak laki-laki selalu berebut untuk menjadi anak ke 1 nya bu Lilis. Ketika aku menyebutkan Cholis anak pertamanya bu Lilis, Bayu anak keduanya bu Lilis, si Bagas, Valentino, Yoga protes padaku. "Lha aku anak ke berapa lho buk?". Akhirnya, aku menyebutkan mereka sebagai anaknya bu Lilis yang ke .... berdasarkan no absen.

Hal lain adalah tentang kebiasaan mereka untuk curhat dan selalu mencari aku. Kebetulan selain mengajar, aku juga menjadi koordinator koperasi sekolah. Mereka selalu mencari di koperasi, baik untuk sekedar menyapa maupun sekedar curhat. Tak jarang anak-anakku  itu curhat rame-rame saat istirahat atau jika ada jam kosong. Tak jarang mereka hanya sekedar menyapa, sambil nanya "Buk, pean ndak bawa jajan?" Itu yang menyebabkan aku suka membawa makanan kecil ke sekolah.Dari diskusi-diskusi dan curhatan mereka, aku selalu menyisipkan dan mengarahkan mereka untuk selalu belajar, santun, beribadah, dan menjaga etika pergaulan. Memang tidak berada di kelas, tetapi dimanapun bisa kutanamkan kebaikan kepada mereka.

Yoga dan Hamdi juga anak yang menarik bagiku. Perhatian Yoga terhadapku seolah terhadap orang tuanya sendiri. Bahkan jika aku tidak ke sekolah, dia pasti BBM aku dan menanyakan kenapa kok aku tidak masuk. Hamdi yang sebangku dengan Yoga adalah anak yang pintar. Ketika ada tawaran untuk menjadi ilustrator sebuah buku lokal, dia dengan antusias menggambar tentang Banjir Benjeng. Anak kreatif yang menyenangkan dan santun. Terakhir sebelum UNAS kemarin, dia masih sempat mengirimi  coretan gambar wajahku lewat BBM. Gambar yang indah. Bahkan aku merasa lebih cantik digambar itu ,,,hehehe,,,

Meskipun aku bukan wali kelas mereka, tetapi komunikasiku dengan mereka cukup baik dan akrab. Bagiku, mengarahkan mereka seperti menanam biji tanaman di kebun. Meskipun aku tidak ikut memanennya, tetapi jika kutahu tanaman itu tumbuh baik dan subur, kebanggaan itu pasti akan aku dapat. Menjadi sahabat mereka adalah bagian untuk menanamkan karakter dan kebaikan dalam hidup mereka. (Buat anak-anakku 9A SMP Negeri 2 Benjeng 2014-2015)

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun