Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Umroh 2 Hari ala Jokowi

7 Juli 2014   06:24 Diperbarui: 18 Juni 2015   07:12 576 0
Kepergian Jokowi untuk beribadah umroh selama dua hari masa tenang kampanye pilpres rupanya menarik perhatian fesbooker. Masuk akalkah? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan berbagi pengalaman. Mudah-mudahan mencerahkan.

Pelaksanaan ibadah umroh sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Dalam kondisi normal, tawaf dan sa’i bisa diselesaikan dalam waktu sekitar empat jam saja. Bila niat dilakukan dari miqat terdekat seperti di Ji’ronah, butuh waktu tambahan sekitar dua jam dengan berbagai pilihan moda transportasi. Jadi total butuh waktu sekitar enam jam, seluruh rangkaian ibadah umroh sudah bisa diselesaikan.

Karena dua hari sama dengan 48 jam maka masih tersisa waktu 42 jam. Inilah waktu yang diperlukan untuk perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno – Hatta sampai ke Bandara Internasional Jeddah ditambah perjalanan darat dari Jeddah ke Makkah.

Perkiraan saya, perjalanan pergi – pulang membutuhkan waktu paling lama 24 jam. Jadi masih ada sisa waktu 18 jam. Siswa waktu ini bisa digunakan untuk bermacam-macam kegiatan seperti menunggu jadwal pesawat, proses imigrasi dan lain-lainnya. Kesimpulan saya, dengan persiapan yang baik, umroh dua hari ala Jokowi itu bisa dilakukan siapa pun.

Dalam konteks yang berbeda, paket umroh khusus seperti yang dilakukan Jokowi sebenarnya merupakan peluang bisnis baru yang berprospek cerah. Paket ini berbeda dengan paket umroh regular yang sudah dikenal masyarakat selama ini, yang umumnya membutuhkan waktu antara lima hingga 12 hari dan berangkat dalam rombongan besar.

Pada tahun 2012 lalu, saya membuat sebuah paket umroh spesial untuk melayani pasar khusus yang tidak ingin umroh dengan rombongan besar seperti sekeluarga, suami-istri atau malah hanya berangkat sendirian.

Perjalanan perdana hanya memberangkatkan empat orang: ibu saya, ibu mertua, adik saya dan adik ipar. Dua wanita dan dua pria sebagai muhrimnya.

Untuk memberangkatkan keempat jamaah tersebut, saya menggunakan jasa Lily Tours yang di Indonesia dikenal sebagai penyelenggara jasa travel khusus F1 dan MotoGP. Saya pilih Lily Tours, karena suami-istri pemilik perusahaan jasa travel ini adalah sahabat baik saya. Selain itu, keduanya juga partner bisnis saya di Wira Mice, perusahaan jasa meeting, incentive, conference dan exhibition.

Saya sengaja tidak menggunakan jasa travel khusus umroh untuk mengelola perjalanan. Jasa travel umroh digunakan hanya untuk mengurus proses administrasi perjalanan seperti pengurusan visa.

Dalam urusan administrasi, Lily Tours menggandeng perusahaan jasa perjalanan haji dan umroh milik KH Ma’soem (Al-Ma’soem Group). Selebihnya, urusan perjalanan ditangani Lily Tours.

Ada target yang ingin saya dapatkan dengan model pengelolaan perjalanan umroh ini. Saya ingin membuat model pengelolaan perjalanan umroh dengan standar pelayanan profesional pada sisi perjalanannya, bukan pada sisi ibadahnya.
Kebetulan ibu saya dan ibu mertua sudah pernah menunaikan ibadah haji. Jadi sudah mengerti rukun dan syarat Ibadan umroh.

Kebetulan pula, ibu saya dan ibu mertua sudah tergolong kelompok yang memerlukan perhatian khusus mengingat usianya. Saat itu, ibu saya berusia 71 tahun dan ibu mertua 70 tahun. Saya tidak sampai hati memberangkatkan mereka dengan paket regular dalam rombongan besar.

Melalui Lily Tour, akhirnya saya mendapat paket perjalanan umroh yang menarik. Paket itu dimulai dari memilih perusahaan penerbangan, memilih kelas tempat duduk di dalam pesawat, memilih hotel tempat menginap di Makkah dan Madinah, memilih jenis kendaraan sewa selama di Arab Saudi, memilih menu makan di berbagai restoran di Makkah dan Madinah, memilih pemandu pria dan wanita yang berbahasa Indonesia, memilih driver yang bisa berbahasa Indonesia, serta membuat rute perjalanan ke berbagai objek yang diinginkan.

Akhirnya ibu, ibu mertua, adik dan adik ipar saya berangkat dan pulang dengan pesawat Garuda Indonesia. Untuk penginapan, Lily Tour memberi hotel terbaik yang menyatu dengan halaman Masjidil Haram sehingga bisa solat berjamaah dari kamar hotel saja. Kamar hotelnya bisa dihuni tiga keluarga terpisah ruangan. Satu kamar untuk ibu, ibu saya dan pemandu wanita, satu kamar untuk adik, adik ipar, pemandu pria dan driver,

Untuk urusan makan siang dan makan malam selama di Makkah dan Madinah, pihak hotel memberi pilihan room service dan di restoran hotel. Kalau ingin makan di luar hotel tinggal meminta driver dan pemandu untuk mengantar karena mereka mengawal 24 jam sehari selama 9 hari perjalanan. Demikian pula untuk transportasi sudah disediakan sebuah mobil SUV GMC yang masih baru.

Walau sudah dengan persiapan yang cukup matang, saya tetap saja was-was. Sebab, perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta ke Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah harus dilakukan sendiri. Pemandu di Jakarta hanya sampai batas konter imigrasi. Sementara pemandu di Jeddah hanya bisa menunggu di ruang penjemputan.

Sepuluh jam setelah pesawat Garuda Indonesia lepas landas dari Cengkareng, adik saya mengirim pesan pendek. ‘’Alhamdulillah, sudah tiba di Jeddah dengan sehat. Kang Hajar yang menjemput sudah ketemu. Sekarang kita naik mobil GMC menuju Makkah.’’

Setibanya di Tanah Air, ibu dan ibu mertua saya mengaku sangat puas dengan paket umroh itu. Pelayanan pribadi dari pemandu dan driver selama 24 jam di Tanah Suci membuat mereka merasa nyaman, karena bisa membuat rencana perjalanan ke mana saja dan kapan saja dengan aman.

Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk Anda yang ingin membuat program perjalanan umroh sendiri. Mohon maaf bila ada salah kata.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun