Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Pejuang Awal Mengibarkan Merah Putih di Bumi Cenderawasih

18 Agustus 2012   05:56 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:35 682 1

Dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1947, Sang Saka Merah Putih telah berkibar di Tanah Papua. Kita patut memberikan apresiasi positif kepada barisan Pemuda Papua yang kala itu sangat berani menembus pengawalan ekstra ketat tentara Belanda di wilayah Papua, hanya untuk menyaksikan Bendera Merah Putih berkibar megah di angkasa Tanah Papua.

Mereka adalah Silas Papare, Frans Kaisiepo, Albert Karubuy, Marthen Indy, Johans Ariks, Sugoro Atmoprasojo, Lodewijk, Barent Mandatjan, Samuel Damianus Kawab dan Joseph Djohari dan masih sederet lagi nama tokoh intelektual Papuaalumni PAPUA BESTUUR SCHOOL (Sekolah Pamong Praja) yang didirikan pemerintah Belanda di Hollandia (sekarang : Jayapura) tahun 1944.

http://www.carikabar.com/inspirasi/157-tokoh/1182-frans-kaisiepo-nasionalis-dari-timur-indonesia

Lembaga itu didirkan Belanda untuk mengisi kekosongan petugas pemerintahan Belanda di New Guinea (Papua) karena Belanda kekurangan banyak personil akibat invasi Jepang ke Indonesia tahun 1942-1945.

Sekitar 400-an pemuda dari berbagai suku dan daerah di Papua telah dididik di lembaga itu. Di antaranya adalah Silas Papare, Frans Kaisiepo, Albert Karubuy, Marthen Indy, Johans Ariks, Sugoro Atmoprasojo, Lodewijk, Barent Mandatjan, Samuel Damianus Kawab dan Joseph Djohari.

Kehadiran lembaga ini telah mewarnai kesadaran politik orang Papua. Dari lembaga itu para pemuda Papua dengan mudah mengikuti semua perkembangan situasi politik yang terjadi di seluruh wilayah Nusantara. Perkembangan politik itulah yang telah menginspirasi Frans Kaisiepo, Silas Papare dan para pendukungnya untuk berjuang membebaskan Tanah Papua dari penjajah Belanda. Maka secara sembunyi-sembunyi, para peserta kursus itu sering mengadakan rapat secara yang pada intinya menentang pendudukan Belanda di Papua dan ingin bersatu dengan NKRI.Mereka merasa bebas mendiskusikan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan masa depan daerah dan pandangan serta pilihan mereka.

Mereka kemudian membentuk dewan perwakilan di bawah pimpinan Sugoro Admoprasojo dengan anggota, antara lain Frans Kaisiepo, Marthen Indey, dan Silas Papare, G Saweri, SD Kawab dan teman lainnya.Frans Kaisiepo tidak setuju dengan papan nama yang bertuliskan PAPUA BESTUUR SCHOOL. Ia memerintahkan Markus Kaisiepo, saudaranya, untuk menggantikan papan nama Papua Bestuurschool menjadi IRIAN Bestuurschool.

Mengibarkan Bendera Merah-Putih

Bermodalkan kesadaran politik dan sekumpulan pemuda-pemuda terpelajar, Silas Pepera dan kelompoknya pulang ke kampung halamannya di Serui. Tahun 1946, Silas mendirikan mendirikan PKII(Partai Kemerdekaan Indonesia Irian). Setahun kemudian, tepat pada 17 Agustus 1947 Silas Papare dan kelompoknya, antara lain Albert Karubuy, Marthen Indy, Johans Ariks, Lodewijk, Barent Mandatjan, Samuel Damianus Kawab, Joseph Djohari dan para pendukungnya melakukan upacara pengibaran bendera Merah Putihuntuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Silas memimpin upacara itu. Akibat dari tindakan itu seluruh peserta upacara harus meringkuk dalam tahanan polisi Belanda lebih dari tiga bulan.

Lagerberg (1979) mencatat bahwa PKII memperoleh dukungan dari berbagai kalangan di Irian Dukungan juga datang dari masyarakat Sorong, Manokwari dan Biak (de Bruijn, 1978).

Sebagai Ketua PKII,Silas Papare berpendirian bahwa Papua secara historis tidak terpisahkan dari Indonesia. Tanpa henti Silas memperjuangkan prinsip itu. Dia berpendapat bahwa sebelum proklamasi Indonesia, Papua adalah bagian dari Hindia Belanda. Namun setelah Proklamasi, Indonesia telah berjuang untuk Papua dan Papua berjuang bersama Indonesia.

http://bintangpapua.com/opini/25542-poros-jogja-papua-dalam-dialog-

Sementara itu, di Biak, Frans Kasiepo menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) tahun 1946. Ia menggalang kekuatan di Biak guna menentang kehadiran Belanda di sana. Frans terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia juga menolak dengan tegas pengangkatan dirinya menjadi anggota delegasi Belanda pada Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda. Sikap keras Frans membuat Belanda kemudian mengasingkannya ke tempat terpencil.

Silas Papare dan Frans Kaisiepo adalah perwakilan nasionalis yang sadar akan pentingnya kemerdekaan Indonesia bagi Papua. Kedua tokoh dan para pendukungnya itu berharap bersama Indonesia Papua akan terbebaskan dari kolonialisme dan imperialisme. Dengan menerima fakta bahwa Indonesia terdiri atas berbagai suku dan agama, Silas dan Frans telah mengajarkan nilai-nilai bhineka tunggal ika bagi orang Papua, tidak saja demi mengusir bangsa penjajah dari Tanah Papua, tetapi juga untuk membangun Papua yang semakin maju dan sejahtera.

Nasionalisme Indonesia telah mengubah cara berpikir kaum intelektual Papua di jaman itu. Sayangnya, cara berpikir Silas Papare dan Frans Kaisiepo waktu itu belum sepenuhnya dijiwai oleh kaum muda Papua jaman kini. Sayang karena masih ada kelompok pemuda Papua modern yang justru berpikiran sempit, yang menginginkan agar Tanah Papua hanya boleh dihuni oleh asli Papua. Masih ada kelompok-kelompok pemuda tertentu yang entah sadar atau hanya sekedar mencari perhatian lebih, ikut melibatkan diri dalam aksi-aksi anti-NKRI hanya untuk mempertahankan bahwa orang Papua bukan bangsa Indonesia, karena mereka berkulit hitam dan berambut keriting.

Sebagai bangsa yang satu dan utuh, mari kita hapuskan cara pandang seperti itu. Kita semua punya kesempatan yang sama untuk membangun negeri ini dengan melibatkan diri dalam kerja-kerja nyata. Raihlah prestasi setingg-tingginya agar tidak tergilas oleh roda perkembangan jaman yang selalu bergerak maju dan terus berubah. Semoga.***

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun