Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik Pilihan

Kang Aher Tetap di Gedung Sate

11 April 2014   19:35 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:47 278 2
Suatu petang menjelang magrib, awal April kemarin, saya sedang sibuk-sibuknya dikejar deadline menulis berita. Segelas kopi menemani, agar kerja membariskan kata bisa lebih semangat.

Petang itu, hanya ada beberapa wartawan yang masih bertahan numpang ngetik di ruang Puspen Kementerian Dalam Negeri. Salah satunya saya. Ruang Puspen ini, menjadi tempat favorit bagi para kuli tinta yang ngepos liputan di kementerian yang dikomandani Pak Gamawan Fauzi, untuk sekedar ngadem atau nulis berita bagi yang tak sempat ke kantor.

Meja besar dengan kursi-kursi empuknya, menjadi tempat para wartawan merangkai kata menjadi berita. Di pojok kiri atas ruangan, tergantung sebuah televisi layar flat yang lumayan besar. Televisi itu menjadi hiburan satu-satunya bagi para wartawan disela-sela menulis berita. Apalagi, oleh pihak kementerian, disediakan saluran Indovision. Jadilah, ruang tempat ngumpul wartawan itu tak sepi dari hiburan. Bila penat datang, tinggal ngambil remote, dan memencet nomor pilihan saluran teve. Mau HBO, mau Metro atau RCTI, tinggal pencet.

Petang itu, saya duduk mengetik berita berhadapan langsung dengan layar teve. Saluran teve yang dipilih petang itu adalah siaran berita yang ditayang TV One, stasiun berita miliknya Pak Aburizal Bakrie atau Pak Ical. Karena sibuk dikejar deadline, mata hanya sesekali menengok layar teve. Berita kebanyakan hanya menyiarkan cerita-cerita kampanye partai. Maklum, saat itu adalah masanya kampanye terbuka bagi partai politik.

Sekilas saya melihat tayangan iklan melintas di layar teve. Awalnya tak terlalu dihiraukan, maklum sedang dikejar tenggat. Tapi, iklan itu kembali nongol. Saya pun jadi tertarik melihatnya dengan seksama. Tokoh dalam iklan yang membuat saya sepertinya mesti meluangkan waktu sejenak untuk memperhatikannya. Tokoh utama dalam iklan yang membuat mata saya 'terpaksa' memanteng layar kaca adalah Ahmad Heryawan, atau Kang Aher. Tahu kan Kang Aher? Si Akang Aher ini, adalah Gubernur Jawa Barat yang baru saja terpilih untuk kedua kalinya dalam pemilihan gubernur di tatar Sunda tersebut. Selain jadi Gubernur, Kang Aher ini adalah politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sering disebut partai kader. Partai ini sekarang dikomandani Mas Anis Matta, setelah komandan sebelumnya Pak Luthfi Hasan Ishaq, masuk sel karena kasus korupsi kuota daging sapi.

Dalam iklan itu, Kang Aher sedang mempromosikan partai yang mengusung kemarin dalam Pilgub. Tapi yang bikin saya tertarik untuk melihat iklan itu, adalah bukan promosi Kang Aher tentang PKS, namun tulisan yang menyertainya. Di iklan itu tertulis Ahmad Heryawan, Calon Presiden 2014. Tokoh lain yang ada dalam iklan 'Capresnya' Kang Aher, adalah Kang Daan Aria, salah seorang pentolan Padhyangan Project, grup parodi komedi asal Kota Kembang. Kang Daan ini, dalam iklan itu, mempromosikan prestasi-prestasi Kang Aher, selama jadi Gubernur Jawa Barat. Katanya puluhan penghargaan telah di raih Jawa Barat, selama Kang Aher memimpin.

Tiba-tiba salah seorang wartawan, kawan satu pos liputan, nyeletuk. " Penghargaannya ada enggak yang kelas Internasional kayak Risma, palingan penghargaan lokal semua," katanya.

Risma yang dimaksud kawan saya itu, adalah Ibu Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya. Ibu Wali Kota Buaya itu memang banyak mendapat penghargaan sama seperti Kang Aher. Tapi beberapa penghargaan yang diterima Ibu Risma, bertaraf internasional alias penghargaan yang diberikan oleh kalangan dunia internasional. Salah satunya adalah penghargaan tingkat Asia Pasifik dalam ajang FutureGov Awards 2013. Ibu Risma juga, meski seorang ibu, bukan seorang akang bukanlah seorang Wali Kota sembarangan. Pada Februari 2014, ia dinobatkan sebagai salah satu Wali Kota terbaik dunia versi World Mayor Project.
Tapi yang bikin saya tertarik, bukan soal penghargaan itu. Namun, soal tulisan Capres 2014 yang tertera di iklan Kang Aher. Saya pun berpikir sejenak, kok begitu pedenya Kang Aher sampai menyematkan Capres 2014. Sebab iklannya PKS dengan Mas Anis sebagai bintang utamanya, tak ada sematan kata Capres 2014. Padahal Mas Anis itu, Presidennya PKS atau kalau di partai lain, dia itu ketua umumnya atau nakhoda partai. Kelas Mas Anis ini sama dengan Pak Ical yang memimpin Golkar, atau dengan Pak SBY dan Ibu Mega yang jadi juru mudi di partainya masing-masing.

Kang Aher, memang menjadi salah satu kader PKS, yang banyak dilirik dalam ajang Pemira partai tersebut. Pemira ini, semacam konvensinya partai kader, sama seperti konvensi penjaringan capres Partai Demokrat. Hanya bedanya, jika konvensi Demokrat, mempersilahkan tokoh diluar partai untuk ikut, Pemira PKS, hanya untuk kader sendiri alias tak dibuka untuk umum.

Hasil akhir Pemira, ada tiga kader yang dianggap oleh PKS paling layak diajukan sebagai capres. Salah satunya Kang Aher ini. Dua lainnya, adalah Pak Hidayat Nur Wahid dan Mas Anis Matta. Kang Aher, gubernur tatar sunda dua periode, Pak Hidayat, mantan Ketua MPR dan Mas Anis, Sekjen PKS yang naik kelas jadi Presiden partai.

Mungkin, karena terjaring dalam Pemira itu, maka Kang Aher dalam iklan yang saya tonton itu, dengan pedenya mencantumkan 'gelar Capres 2014'. Saya kira sah-sah saja, mencantumkan itu. Tapi idealnya, bukan Capres tapi bakal Capres. Sebab belum tentu juga PKS dapat suara banyak dalam pemilihan legislatif. Bisa jadi suaranya jeblok. Padahal syarat satu partai atau gabungan partai bisa menyorong capres dan cawapres itu sangat berat, yakni bisa meraup 20 persen suara sah nasional atau meraih 25 persen dari total kursi di DPR. Berat bin sulit kan?

Baru misalnya kalau PKS meraup 19 persenan suara atau katakanlah bisa seperti Partai Demokrat pada 2009 kemarin, maka bolehlah Kang Aher memamerkan kepedeannya. Karena kalau raupannya sebesar itu, Kang Aher ibaratnya tinggal melenggang saja, karena partai kalau pun kurang satu persen bisa merangkul partai lain untuk menggenapi syarat pencapresan yang diatur Undang-Undang.

Tapi, kalau suara PKS seret, alhasil Kang Aher, akan tetap tak beranjak. Dia akan tetap berkantor di Gedung Sate, dan melupakan mimpi bisa boyongan ke Istana. Pada 9 April kemarin, sebagian besar pemilih menunaikan hak pilihnya. Sebagian kecil lainnya, ada yang nyusul nyoblos karena kasus surat suara tertukar atau kurang logistik.

Hasilnya bagaimana? Hasil resmi penghitungan suara versi Komisi Pemilihan Umum (KPU), memang masih lama untuk diumumkan. Tapi untungnya, beberapa lembaga survei melakukan quick count atau hitung cepat.

Beberapa lembaga yang ngitung cepat itu, adalah lembaga survei yang sudah tenar dan besar. Sebut saja, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Indikator Politik Indonesia (IPI), Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Lembaga Survei Nasional (LSN), CSIS serta lembaga survei lainnya.

Sebagian besar hasil hitung cepat yang dirilis lembaga survei, menyebutkan PKS raihan suaranya ada dikisaran 6 persenan. Raihan suara itu menempatkan partai kader di papan tengah, bukan di papan tiga besar, seperti yang selama ini ditargetkan petingginya. Artinya, langkah Kang Aher bisa boyongan dari Gedung Sate ke Istana Merdeka sangat berat, kalau tak bisa dikatakan mustahil.

Sebab tak mungkin PKS mengajak Golkar, yang sudah punya capres sendiri yakni Pak Aburizal atau Pak Ical. Dari raihan suara pun Golkar jauh berjarak dengan PKS. Partai beringin itu, bertengger di urutan dua besar menurut hasil hitung cepat dengan raihan 14 persenan suara. Posisi puncak ditempati PDI-P yang berhasil mendulang 19 persenan suara. Dan peringkat tiga besar diduduki Gerindra yang meraup 12 persenan suara. Bahkan PKS masih kalah oleh PKB, partainya Mas Muhaimin Iskandar, yang sukses mendulang 9 persenan suara. Partai pimpinan Mas Muhaimin ini, bertengger di posisi lima besar, terpaut sedikit dengan Partai Demokrat yang sama-sama meraup 9 persenan suara. Demokrat ada di posisi empat besar.

Jadi, bila melihat konstelasi peraihan suara menurut hasil hitung cepat, sepertinya sudah dipastikan PKS, partai tempat Kang Aher bernaung, tak dapat tiket mencalonkan capres. Paling banter, bisa menawarkan posisi cawapres. Itu pun sama sulitnya, sebab partai lainnya pun mengincar posisi itu.

Alhasil Kang Aher akan tetap di Gedung Sate, gagal pindah kantor ke Istana Merdeka. Lupakan pula, akan berstatus capres pada 9 Juli nanti. Mungkin status capres Kang Aher, hanya ada di iklan seperti yang saya tonton awal April kemarin, saat musim kampanye terbuka masih berlangsung.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun