Lockdown membuat peribadatan diubah menjadi daring semenjak beberapa waktu ini. Lockdown tidak memungkinkan dilakukannya aktivitas yang melibatkan partisipasi banyak orang secara berdekatan. Terlebih untuk melakukan peribadatan bersama di gedung gereja.
Kondisi ini mengingatkan saya pada cerita jemaat awal. Para jemaat kala itu harus beribadah bersama secara tersembunyi. Hal ini dikarenakan pada saat itu jemaat awal diburu.
Pada awal pertumbuhan pengikut Kristus di awal masehi, jemaat yang tertangkap bisa saja dieksekusi di tempat. Karenanya peribadatan bersama saat itu diinformasikan secara rahasia dari mulut ke mulut. Ibadah juga dilakukan di tempat yang sangat rahasia.
Keadaannya memiliki permasalahan yang berbeda, namun keadaan yang sama. Umat tetap setia dalam kesusahan melakukan ibadah. Mereka beribadah dalam tekanan keadaan. Namun, tekanan tersebut tidak menyurutkan hasrat umat untuk beribadah, tapi justru menyalakan semangat dalam suka dan duka.