Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi

Ketika Cinta Anisa masih Menjauh

28 Maret 2011   21:51 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:21 168 0
(seorang dosen belajar menulis cerita)

Anisa yang kukenal lebih dari lima tahun terakhir sebenarnya tidak pernah berubah dalam sikap dan pendiriannya. Gadis menjelang 26 tahun itu dulunya mahasiswiku di sebuah perguruan tinggi swasta di ibu kota. Datang dari keluarga cukup mampu secara ekonomi, Anisa termasuk perempuan mandiri, berkemauan keras-kadang-kadang juga keras kepala, tapi mungkin wajar sebagai ciri orang cerdas-dan tidak pantang menyerah. Pekerjaan dan profesi yang digelutinya setahun terakhir boleh dibilang buah dari keuletannya mencari dan menemukan sesuatu karya yang diinginkannya. Betapa tidak! Anisa bekerja di sebuah perusahaan internasional dengan posisi yang cukup menjanjikan masa depan.

Semula perkara hati dan jatuh cinta yang pernah dikisahkan Anisa kuanggap hal sepeleh dan tipikal kaum remaja. Aku ingat tiga tahun silam, ketika suatu ketika di akhir kuliah, Anisa meminta waktu untuk bicara. "Tidak ada hal lain yang akan aku kerjakan seusai kelas ini, jadi kamu bisa ikut ke ke ruanganku kalau memang ada yang mau kamu bicarakan," jawabku.

Anisa langsung saja mengeluh ketika pantatku belum sempat menempel pada kursi tua di balik mejaku. "Ternyata tidak gampang meyakinkan laki-laki bahwa saya adalah pilihan yang tepat buatnya! Benar ngga sih pak!"

"Kamu omong apa sih? Aku tak mengerti! Mengapa tiba-tiba saja kamu mengatakan hal ini? Ayo dong, mana premisnya. Jangan menarik kesimpulan seperti itu tanpa pernyataan pendukung lain!"

"Ah, Bapak! Sekarang kan bukan kuliah logika!" "Maksud saya, semua laki-laki yang memiliki hati tidak pada satu perempuan sulit menentukan ke mana hatinya berlabuh!" "Jika sudah begitu, akan sia-sialah usaha saya membuktikan diri sebagai gadis yang paling tepat jadi pelabuhan hatinya!" "Benar ngga sih pak?"

"Kamu sedang membicarakan Faizal, toh!" "Anisa, apa sih yang terjadi pada kalian?" "Bukankah kamu sudah lama saling mengenal?"

Anisa diam saja. Ruang kerjaku yang kurang dari enam meter persegi itu terasa semakin panas saja. Suasana agak sepi sore itu. Rekan-rekan dosen lainnya sepertinya sudah tidak sabar kembali berkumpul bersama keluarga setelah seharian penuh berada di kampus. Dan aku masih juga enggan mengeluarkan kata-kata lanjutan menanggapi kegundahan hati Anisa. Dari balik kaca mataku Anisa tampak cemberut. Wajahnya yang sedikit mengoval, kaca mata tipis dan alis mata yang tidak terlalu tebal sebenarnya mengindikasikan Anisa seorang gadis manis. Menurutku, dia termasuk satu dari sedikitnya lima mahasiswi di kelasku termasuk cantik dan manis-kedengarannya subjektif.

"Faizal mungkin membutuhkan waktu untuk mengambil keputusan, " aku mencoba memecah kesunyian.

"Ah, alasan basi, Pak!" Laki-laki memang selalu punya alasan untuk membela diri. Sibuklah, sedang mengerjakan tugas kuliahlah, menemani adik mengerjakan PR, membantu ibu menjaga warung, dan semacamnya. Benar kan, Pak?"

"Mungkin!" jawabku singkat. "Tapi kamu tidak bisa menggeneralisasi begitu dong! "Mengawali kalimat dengan semua laki-laki termasuk tipe kalimat universal afirmatif, kan!"

"Itu kan, Bapak ini mengulang meluluh kuliah logika!"

"Maksudku, pernyataanmu itu tidak menggambarkan realitas sesungguhnya, sama seperti ketika kamu menyangkal keseluruhan isinya, dengan mengatakan "Semua laki-laki tidak setia atau semua laki-laki pembual, dan seterusnya!"

Aku tahu Anisa tidak suka dengan caraku menanggapi pertanyaannya. Tapi aku pikir, dengan cara itu kegalauan hatinya bisa sedikit berkurang. Tapi ternyata aku keliru. Wajah ceria, keteguhan hati, ketegasan, kemandirian, dan beribu kewibawaan yang pernah aku kenal dalam diri si gadis mungil ini seakan sirna.

"Kapan Faizal terakhir melewatkan malam minggu bersamamu?" tanyaku sekenanya.

"Sebulan yang lalu, Pak!" Setelah itu dia terus menghindariku. Setiap kali aku telpon, dia selalu tidak mengangkatnya. Kalau aku SMS, dia hanya membalas, katanya mau nelpon balik. Tapi itu tidak pernah dia lakukan!"

"Kamu tahu kan di mana dia tinggal?"

"Ya, dia masih tinggal bersama orang tuanya, tidak begitu jauh sih dari kampus ini. Masalahnya dia tidak pernah membolehkanku mampir ke rumahnya."

"Sejak kapan dia tidak mengizinkan kamu ke rumahnya?" tanyaku.

"Beberapa minggu terakhir ini!" jawab Anisa cepat.

"Begini saja! Bagaimana kalau aku yang membicarakan hal ini dengan Faizal?"

"Emangnya Bapak mau melakukannya!"

"Aku coba, tapi tidak janji kalau ini akan berhasil meyakinkan Faizal untuk memutuskan pilihan cintanya padamu!"

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun