Tulisan ini berawal dari diskusi grup WA teman-teman SMA saya. Kemudian, tantangan diberikan oleh dua orang teman jurnalis itu. Sebenarnya buat artikel seperti judul ini gampang saja bagi mereka. Tetapi, mereka ingin melihat sudut padang yang lain. Saya yang non-jurnalis, dengan background
industri dan akademisi. Kalau saya yang level "kapuyuaks" aja sih. Yang ecek-ecek aja. “Cuma itu yang bisa kita berikan saat ini ke Sumbar dari rantau”, begitulah kira-kira bunyi rayuan pulau kelapa. Pendapat Buya Syafii Maarif itu dibenarkannya.
Jeweran Buya Maarif dianggapnya seperti sudah “menampar” orang se-Sumbar. Yah, entahlah!
KEMBALI KE ARTIKEL