Mohon tunggu...
KOMENTAR
Foodie Pilihan

Mengecup Bubur Tinutuan Khas Manado

7 Februari 2014   15:27 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:04 666 2

Kuning cemerlang mencolok mata. Langsung menyulut hasrat menggoda lidah. Begitulah kesan pertama saya berjumpa dengan Tinutuan ketika dihidangkan oleh pelayan Kios Pelangi di Manado, ibukota Sulawesi Utara. Tak diragukan lagi, sejak pandangan pertama Tinutuan memiliki aura pesona yang sangat khas. Kuliner yang menjadi kebanggaan orang Manado ini sukses memikat atensi saya bahkan sebelum saya mencoba mencicipinya.

Malam itu kota Manado masih riuh dan gemerlap dengan aktivitas penduduknya. Kota di ujung utara pulau Sulawesi ini memang tumbuh pesat menjadi kota yang sibuk, dari pagi hingga malam. Saya baru kali ini hadir di Manado, baru tiba saat sore jelang maghrib. Sesuai minat kuat terhadap kuliner khas setempat, saya pun lekas mencari Tinutuan.

Kata beberapa teman saya, “Kamu belum ke Manado kalau tidak coba bubur khas Manado, Tinutuan.” Dia lantas merekomendasikan Kawasan Wakeke sebagai tempat terbaik menikmati Tinutuan karena di Wakeke lah memang merupakan sentra Tinutuan di Manado.

Kios Pelangi akhirnya menjadi tambatan pencarian Tinutuan saya. Tempat ini tidaklah berada di Wakeke, tapi dekat gerbang masuk Wakeke. Tepatnya di Jalan Sam Ratulangi, Manado. Kunjungan saya di Manado pada malam hari disambut oleh kawasan Wakeke yang sudah sepi. Normalnya, rumah-rumah makan di Wakeke buka dari pagi sampai sore saja. Dalam keseharian orang Manado, bubur Tinutuan adalah menu sarapan. Untunglah, karena ada juga warung penjual tinutuan selain di Wakeke yang buka hingga malam seperti Kios Pelangi ini, saya pun masih bisa menjajal Tinutuan.

Tinutuan malam itu tidak hadir sendirian menjadi bintang kuliner Manado. Saya memesan ia dengan ditemani Perkedel Nike dan Es Brenebon. Keduanya juga merupakan makanan khas Manado. Tinutuan menjadi hidangan utama. Perkedel Nike menjadi padanan lauk terbaik Tinutuan. Adapun, Es Brenebon merupakan minuman penutup Tinutuan.

Sekarang, semua hidangan sudah datang. Saatnya saya berpesta merayakan makanan spesial dari Manado.

Santapan Perekat Pergaulan

Asin dominan gurih tapi tak ketinggalan sedikit rasa manis serta kaya aneka bumbu melimpah. Begitulah rasa yang terasa saat lidah saya mengecuppertama sang primadona Tinutuan. Sluuuurrrp... Tinutuan juga terasa segar membasahi kerongkongan ketika disantap, layaknya minuman pelepas dahaga. Sengaja saya belum campurkan apapun agar saya bisa merasakan rasa asli dari Tinutuan.

Namun, cara itu belumlah cukup untuk merasakan kekhasan kuliner Manado. Orang Manado suka dengan makanan yang pedas. Saya lantas memberi sambal Roa –sambal yang dicampur ikan roa khas Manado –ke Tinutuan. Jadinya… Emmmm. Lidah saya langsung mengecap sensasi pedas. Tinutuan punya saya pun menjadi benar-benar Manado banget. Meskipun saya orang Jawa yang terbiasa menikmati makanan manis, ketika merasakan Tinutuan,saya tidak ada masalah. Saya suka dengan rasa Tinutuan yang begitu kaya bumbu dalam balutan gurih nan pedas.

Tinutuan identik dengan warna kuning yang menyala. Kuning ini bukanlah pewarna buatan, melainkan warna alami dari labu kuning (sambiki dalam bahasa setempat) dan ubi kuning. Lalu warna kuning ini didukung dengan butiran biji jagung kuning. Warna yang kontras ini membuat setiap kali orang yang memandangnya pasti akan bergairah untuk lekas mencicipnya, seperti saya ini.

Dalam Bahasa Manado, kata Tinutuan sering diartikan sebagai ‘semrawut’. Pantas saja, ketika disajikan, Tinutuan dipandang seperti masakan yang tercampur-campur secara semrawut. Ketika dirasakan, Tinutuan punya campur aduk bahan dan bumbu yang memperkaya rasa.

Tinutuan dibentuk dari campuran beras, aneka sayuran dan beragam bumbu. Sayurannya berupa labu kuning, ubi kuning, jagung, kemangi, bayam, singkong, kangkung, gedi (sayuran khas Manado), dan lainnya.Adapun bumbunya yang diracik untuk dimasukkan di Tinutuan berupa bawang putih, jahe, batang serai yang dimemarkan, daun salam, dan garam.

Bagaimana cara memasak Tinutuan? Tidaklah susah, cukup mudah dan sederhana. Setiap perempuan asli Manado dan Minahasa pasti bisa memasak Tinutuan, seperti setiap ibu yang bisa memasak nasi untuk keluarganya.

Beras sebagai bahan utama pembuat bubur dimasak dalam air mendidih. Bumbu-bumbu bawang putih, serai, daun salam, pala dan garam dimasukkan bersamaan dengan beras. Ketika setengah matang, potongan singkong lalu dimasukkan terlebih dahulu, disusul jagung, labu kuning. Jika bahantersebut matang, baru dimasukkan berbagai macam jenis sayuran lain satu persatu seperti kemangi, bayam, kangkung, dan gedi.

Adonan bubur biarkan terus dimasak sampai mengental dan semua bahan matang merata.Meski begitu, bubur jangan sampai terlalu lembek atau terlalu matang. Penting diperhatikan. Bahwa keberhasilan Tinutuan selain pada rasanya yang nikmat adalah terletak pada warna kuningnyayang sangat khas. Sari pati labu kuning, ubi dan jagung harus menyatu mewarnai bubur.

Orang datang ke Manado pasti akan mencari Tinutuan sebagai bukti eksistensi. Bagi orang Manado sendiri Tinutuan adalah santapan sehari-hari. Yang luar biasa dari Tinutuan, makanan ini telah menjadi perekat pergaulan orang-orang di Manado. Pada setiap pesta dan hajatan, Tinutuan selalu hadir tersaji untuk mempererat jalinan ikatan silaturahmi yang melintas antargolongan, antaragama, dan antarsuku di Manado.

Sebagai kota yang didominasi masyarakat beragama Protestan, Tinutuan menjadi lambang toleransi beragama kepada umat lain khususnya Islam. Kaum Muslim cukup banyak tinggal di Manado yang notabene adalah pendatang dari Jawa, Padang, Bugis, Makassar, Gorontalo, Maluku, dll. Dengan makanan yang berbahan bumbu dan sayuran, maka Tinutuan aman dan halal dikonsumsi oleh siapapun agama, suku, dan golongan. Yang membedakan di Tinutuan adalah pada lauknya. Terlebih, orang Minahasa dan Manado dikenal suka mengonsumsi hewan apapun, dari babi, anjing, sampai paniki (kelelawar) yang biasanya disantap sebagai lauk Tinutuan.

Barangkali karena pergaulan Tinutuan inilah, kota Manado relatif kondusif selama terjadi ramainya konflik SARA yang banyak melanda banyak daerah di Indonesia. Kota Manado tetap aman dan tentram karena toleransi terjalin dengan erat dan akrab. Hingga sekarang pun, suasana kota Manado terkenal selalu tenang, sangat sedikit adanya pertikaian dan kekerasan. Orang yang hadir di Manado pun akan merasa disambut dengan kedamaian dan keramahan orang Manado.

Tidaklah salah kalau Manado pun kini dikenal menjadi kota Tinutuan. Sejak awal pemerintahan Wali Kota Jimmy Rimba Rogi dan Wakil Wali Kota Abdi Wijaya Buchari periode 2005-2010, Tinutuan menjadi motto Kota Manado, menggantikan motto sebelumnya yaitu Berhikmat. Motto Tinutuan tepat menjadi simbol perekat pergaulan yang harmonis di antara penduduk Manado. Saya pun merasakan betul nuansa kedamaian dan kehangatan khas orang Manado, seperti dalam setiap sruputan dan kunyahan Tinutuan .

Disantap Bersama Perkedel Nike, Dipamungkasi Es Brenebon

“Jangan pernah lupakan perkedel nike saat menyantap Tinutuan”, seperti itulah pesan penting dari Romi, kawan saya yang tinggal di Manado.

Benar katanya, jangan pernah tinggalkan Perkedel Nike! Saya pun menyantap Tinutuan dengan pasangan khasnya, yakni Perkedel Nike. Sepintas, wujud makanan ini pipih seperti bakwan saja yang diisi dengan ikan teri. Hanya saja jangan bandingkan tentang keunikan rasanya.

Begitu dicicip, digigit, dikunyah, rasa gurih bercampur pedas dengan rasa asin yang terkendali langsung terasa di lidah. Ikan nike yang kecil membuat renyah dan meriah. Jelas ini bukan bakwan. Ini adalah Perkedel Nike yang khas Manado.

Ikan nike yang menjadi bahan dasar dari Perkedel Nike diambil langsung dari Danau Tondano. Ikan ini hanya hidup di Danau Tondano, sekitar 40 km dari kota Manado menuju pedalaman Minahasa. Karena bentuknya kecil-kecil sering dimiripkan dengan ikan teri. Tapi ya jelas beda karena ikan nike bisa tumbuh besar. Ikan nike sebenarnya adalah anak ikan payangka (nama latinnya: ophieleotris aporos) yang hidup di Danau Tondano. Bentuknya yang kecil-kecil memungkinkan ikan nike bisa diolah menjadi cemilan dan lauk di masyarakat Minahasa dan Manado.

Perkedel Nike dibuat dengan mencampurkan ikan nike dengan adonan tepung terigu dicampur telur. Kadang juga dicampur dengan biji jagung yang kuning. Bumbu perkedel nike cukup sederhana tapi mengesankan kaya rasa. Bumbunya hanyalah garam, bawang merah, bawang putih yang dicampur dengan merica sebagai penimbul rasa pedas, dituangkan dalam adonan tepung dan ikan nike. Penyajian paling mantap untuk menyantap perkedel nike adalah saat masih hangat setelah digoreng.

Padanan Tinutuan dan Perkedel Nike sungguh rasanya pas bagi lidah saya. Rasa gurih dan segar di Tinutuan merajut harmonis dengan rasa gurih nan kriuk di Perkedel Nike. Saling mengisi. Ini membuat saya pun lahap menyantap Tinutuan dan Perkedel Nike. Saya habiskan dua Perkedel Nike untuk menemani semangkuk penuh Tinutuan. Keduanya tandas!!

Makan Tinutuan dan Perkedel Nike itu menjadikan saya tidak terlalu haus. Toh, bukannya saya kan hanya makan bubur saja? Makanya, saya pun mengakhiri hidangan Tinutuan dengan memilih menu Es Brenebon alias es kacang merah khas Manado. Es Brenebon yang disajikan di Kios Pelangi ini dipadukan dengan alpukat. Jadinya, meski ini merupakan minuman es, karena berbahankan kacang merah dan alpukat maka Es Brenebon bagi saya termasuk minuman berat. Ah, lumayanlah untuk pengenyang makan Tinutuan.

Es Brenebon dikenal di Manado sebagai minuman yang disajikan pada saat akhir menyantap Tinutuan. Kata ‘brenebon’ merupakan arti lazim dari kacang merah di Manado yang merupakan serapan kata dari bahasa Belanda yakni Bruine (warna Coklat kemerahan) dan Bonen (Kacang). Di Manado, selain dibuat es, Brenebon lebih terkenal dulu dijadikan sup Brenebon yang berbahankan daging babi atau sapi. Saya menikmati Es Brenebon begitu perlahan, mencoba mengulik sensasi rasa kacang merah yang begitu manis. Kok bisa kacang merah yang biasanya identik gurih menjadi manis gurih?

Rasa manis nan gurih pada kacang merah Es Brenebon adalah berasal kombinasi yang bagus antara rebusan kacang merah dan kayu manis serta sirup berbahan gula pasir dan gula merah. Ketika berpadu lalu diberikan pelengkap susu kental manis dan alpukat. Pengolahan sederhana tapi mencipta rasa yang begitu berwarna. Pemberian es serut menyempurnakan sajian Es Brenebon.

Andai saja saya datang menikmati kuliner Tinutuan di Manado bersama banyak orang, tentunya saya bisa mencoba aneka lauk yang lebih bervariasi. Tak sekedar Tinutuan bersama Perkedel Nike dan Es Brenebon. Lauk-lauk kuliner lain khas Manado yang cocok dipadukan dengan Tinutuan, diantaranya adalah Ikan Cakalang Fufu, Ikan asin lainnya, Perkedel Milu, Sup Brenebon, Paniki, Gohu Ikan dan sebagainya. Bubur khas Manado ini pantas dicicipi bersama aneka lauk lainnya.

***

Saran saya, mengecup bubur Tinutuan perlu menjadi misi pertama jika berkesempatan datang ke Manado. Penting sekali sebagai sarana perkenalan sebelum menjelajahi lebih dalam kota Manado. Penting sekali sebagai nutrisi dan energi untuk semangat menikmati segala pesona yang ada di Manado.

Terlebih, Bubur Tinutuan menjadi bagian dari 5 B yang terkenal khas dari kota Manado. Setiap orang yang datang ke Manado akan rugi kalau tidak menjajal 5 B Manado, paling beruntungnya kalau bisa semua lengkap. Apa saja 5 B khas Manado? 1) Mengecup Bubur Tinutuan khas Manado, 2) Menikmati gemerlap Bolulevard, pusat keramaian Manado, 3) Menjelajahi pesona Bunaken. Emm.. Yang ke 4) dan ke 5) nya ini sangat menantang. Boleh dikatakan termasuk wisata minat ‘khusus’. Yang ke- 4 itu adalah body Manado dan yang ke-5 adalah bibir Manado. Sudah bisa diduga tow dua 'B' terakhir kemana arahnya? Silakan Anda nikmati jika berminat. Hehe.

Namun yang pasti, Bubur Tinutuan adalah ‘B’ yang selalu dibutuhkan agar bisa kuat tenaga dan stamina dalam menikmati pesona 4 B Manado lainnya yang luar biasa, begitu bukan?

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun