Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan

Sepenggal Kisah Cinta dari Nagoya 1.5

5 Juni 2011   16:02 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:50 260 0
From Nagoya with Love [caption id="attachment_114478" align="aligncenter" width="612" caption="Kau cantik, aku tertarik"][/caption] Jarak Nagoya-Tokyo yang lebih dari 350 km-an itu dengan shinkansen hanya butuh waktu kurang dari 2,5 jam saja. Sampai di stasiun Tokyo pukul lima.  Stasiun begitu ramainya. Banyak orang lalu lalang. Suasana  petang akhir pekan di sebuah kota Metropolitan. [caption id="attachment_114594" align="aligncenter" width="300" caption="Suasana kota Shibuya (depan stasiun)"][/caption] Dengan kereta dalam kota -- Yamanote Line, akhirnya saya sampai di stasiun Shibuya.  Kota anak muda. Di situ ada tempat meeting point yang hampir semua orang Jepang mengenalnya. Sebuah tempat di dekat perempatan dan ada patung anjingnya. Patung anjing itu menggambarkan kesetiaan sebuah kisah penantian. Kisah kesetiaan anjing menunggu tuannya ini juga tak kalah terkenalnya. Ada novelnya. Ada dramanya. Bahkan sekarang film Dog’s Story yang dibintangi Richard Gere, konon diinsipirasi dari kisah nyata ini. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu dibuatlah monumen patung anjing penunggu Hachiko itu. Di akhir pekan tempat ini  ramai sekali. Banyak anak muda Jepang  memilih tempat ini sebagai tempat janjian. Untuk bertemu dan berkencan. Tempat berandevu. Seperti diriku dengan  Aiko itu. [caption id="attachment_114593" align="aligncenter" width="300" caption="Patung Hachiko di Shibuya"][/caption] Ini Jumat petang akhir pekan. Suasana begitu ramainya. Menunggu seorang wanita Jepang di musim dingin dengan wajah dan busana mereka yang hampir mirip; dan baru untuk pertama kali; tentu adalah bukan perkara mudah. Saya sebenarnya sedikit panik. Kami janjian untuk ketemu di sini jam 6 petang. Tapi supaya saya bisa tenang saya curi waktu. Saya tiba lebih dulu. Dan berdiri di samping patung anjing itu. Mematung seperti Hachiko. Berdiri tegap seperti anggota Paspampres menjaga pintu gerbang istana. Mata selalu melirik setiap perempuan muda yang lewat sendirian. Menilik-nilik mencuri melihat wajahnya apakah yang saya lihat itu  Aiko-san atau bukan. Sepuluh menit berlalu. Terasa seperti seminggu.  Bagaimana kalau si Ai itu memang tidak datang. Tiba-tiba ada halangan. Sia-sialah ini perjalanan. Percuma saja ini pengorbanan. Hati saya mulai tak tahan dalam penantian. Menggerutu dalam ketidakpastian. Saya lirik patung  Hachiko itu. Masih diam. Dalam diam yang membatu itu serasa sepertinya ia  membisikkanku sesuatu. “Hai, kamu pemuda yang lagi kasmaran, kenapa baru nunggu 10 menit saja sudah menggerutu begitu. Padahal kalau kamu yang telat 1 jam kamu merasa seperti tak ada apa-apa. Ini kan belum jam 6. Masih 20 menit lagi. Dasar orang tak sabaran. Pemuda kampungan dari negera berkembang! Bersabar dikit napa? Lihat diriku, yang cuma seekor anjing saja. Seekor hewan, kasta binatang yang katanya lebih rendah dari kamu manusia. Tapi dalam hal menunggu, lihatlah aku! Jauh lebih mampu darimu, hai bujang lapuk! ” Bisikan yang bernada ejekan tapi justru menguatkan penantianku itu. Saya jadi mengerti kenapa untuk janjian menunggu berkencan banyak orang Jepang memilih tempat itu. Ada daya magisnya. Kamu boleh tidak percaya. Tapi tak salahnya bila kamu juga mencobanya, kawan. Membuktikan sendiri seperti aku ini. Ini bukan masalah klenik. Atau mistik. Kamu boleh menyebutnya sebagai  sebuah sugesti.  Dan kalau sebuah sugesti itu berdampak positif, toh apa salahnya, kita percaya. Kamu boleh bilang saya ini musyrik karena percaya hal ini. Tapi itu bukan urusanku. Urusan saya adalah menunggu bidadariku si Ai itu. Dan lihatlah saya bisa setia menunggu seperti Hachiko. Setidaknya penantian ini tidaklah jadi beban hanya karena saya sudah berubah pola pikiran. Saya, Indra Malela, pemuda Cirebon pinggiran, kenapa musti harus kalah dengan anjing Jepang itu dalam hal menunggu. Jam 6 kurang sepuluh. Seorang wanita muda memakai baju dingin biru. Rambut hitamnya terurai sebahu. Bibi merah. Tersenyum merekah menghampiriku. “Ai…” Aku berkata lirih dan riang. Kegirangan. “Marera! “ dia memanggilku setengah berteriak. Kulihat raut mukanya yang cerah. Senyum simpul dari bibir tipis.  Memecah dingin kota Shibuya di  petang itu. Lalu dia melakukan ojigi --hormat bungkuk ala Jepang-- berulang-ulang. Mengucapkan terima kasih berkali-kali. Terima kasih sudah datang jauh-jauh dari Nagoya. Terima kasih sudah menunggu. Terima kasih sudah datang untukku. Terima kasih, Marera! Saya jadi salah tingkah dan bingung bagaimana harus bersikap. Saya diam. “Aiko-san!” kataku pelan. “Haik, ada apa?” Jawabnya dengan suara yang pelan. Suara yang sudah aku hapal. Sejak seminggu yang lalu tiap hari saban malam aku mendengarnya. Dan kini baru beberapa menit saja untuk pertama kalinya kami bertemu. Tapi sepertinya keakraban itu sudah ada dari dulu. Bahkan serasa sejak proses Big Bang pun belum mulai, kami sudah jadi karib. Karena suaranya yang sopan dan pelan  itu sudah tak asing lagi bagi telingaku. “Ada apa?” Aku mengulang pertanyaanya setengah bercanda. “Ada saya di sini. Malela. Orang Indonesia. Bukan orang Jepang. Kebingungan melihat seorang wanita Jepang melakukan ojigi berkali-kali dan berterima kasih berulang-ulang seperti itu. Saya entah harus bagaimana menjawabnya?” Sambungku setengah tertawa. Dia tertawa tak kalah meriahnya. Sambil melihatku. Memandangku dalam-dalam. Aku tatap wajah cantik itu tajam-tajam. Tatapanku seperti menusuk. Membuatnya terdiam.  Grogi. Aku lihat mata bening itu. Kulihat ada wajahku di situ. Tak ada yang lain. Membuatnya sulit berpaling. Tatapannya menjadi teduh. Luluh. Dan akhirnya menunduk. “Aiko.” Kataku lagi. “Ya. “ ia selalu setia dengan jawaban 'haik'-nya. “Arigatou gozaimasu.”  Kataku  sambil badan kubungkukan ke depan. Melakukan ojigi. Seperti orang sedang ruku sembahyang di hadapannya. Kubungkukan badanku itu lama-lama. Diam tak bergerak dalam posisi membungkuk. Mematung seperti Hachiko, yang ada di sampingku. Kurasakan ada sepasang tangan hangat dan  lembut memegang kedua lenganku bagian atas. “Marera-san, jangan ojigi seperti itu. Kamu kan bukan orang Jepang.” Sambil tangannya terus memegang kedua lengan atasku dan membimbingku agar aku lekas-lekas  membangkitkan badan. Aku menengadahkan muka  ke atas. Ada sebuah wajah cantik yang tersenyum merekah. Wajah dengan bibir dan pipinya yang memerah.  Yang aku suka! “ Ai, aku  bukan orang Jepang, memang. Tapi aku sedang ojigi pada orang Jepang, pada seorang wanita Jepang. Adakah aku salah melakukannya?“ Kataku datar. Kulihat wajah itu begitu dekat. Putih bersih. Kuning langsat. Tanpa cacat. Dia tersenyum lebar. Dia kelihatan senang. Hati saya menjadi semakin berdebar. Ada uap udara dingin yang mengalir keluar terhembus dari mulutnya yang manis itu. Uap itu menuju hidungku. Kuhirup dan kuisap dalam-dalam. Aku suka itu uap. Mata kupejamkan. Ketika kubuka. Wajah cantik itu kembali hadir dalam senyumnya yang aku suka. Bibir merah yang senantiasa merekah.  Dengan kedua tangannya masih dibahuku.  Aku jadi agak kaku dan  sulit bergerak. Aku julurkan kedua lenganku ke pinggang dan punggungnya. Kutarik tubuh semampai itu makin mendekat. Tangannya lepas dari kedua lenganku. Tapi sejenak saja, tangan lembut itu sudah meraih punggungku. Kami makin dekat saja. Beradu. Makin erat. Aku dekap tubuhnya. Kepalanya jatuh di bahuku. Pipinya beradu dengan pipiku. Lembut.  Halus. Kepalanya ku-elus. Kubelai rambutnya yang terurai. Jantungku dan jantungnya kurasakan juga makin kencang berdetak.  Kami berpelukan. Berpagutan. Kami menyatu. Membatu di samping sebuah patung yang kaku. Orang jalan lalu-lalang. Jumat petang jam 6. Shibuya yang dingin. Kami berdekapan. Menghangatkan badan di samping patung seekor anjing. Ah, betapa nikmatnya. Andaikan surga dunia ini ada mungkin inilah wujudnya. Andai ada bidadari yang turun ke bumi,  mungkin Ai ini orangnya. Terasa begitu indah. Saya ingin bumi berhenti berputar dalam rotasi. Saya rasa proses penciptaan jagat raya ini sudah selesai. Saya ingin jarum jam berhenti berdetak. Biarlah yang berdetak jantung kami berdua saja. Jantung Ai dan jantung saya. Biarkan kami berpelukan di antara orang lalu lalang. Biarkan kami membeku di situ. Membatu seperti patung Hachiko. Biarkan. Tak ada lagi apa yang harus kuingini. Apalagi? Sudah ada Ai di sini. Melekat menyatu erat denganku ini. Yang cantik seperti artis Yuko Natori. Saya ingin seperti ini terus  selamanya. Kupejamkan mataku dalam-dalam dan panjang. Ai tetap dalam dekapan. Lalu, kubuka mataku pelan-pelan. Aku kaget. Terkejut bukan main. Aiku sudah hilang dalam pelukan. Hanya bantal di tanganku. Dan aku ternyata masih meringkuk dalam selimut di kamarku. Ah, ternyata semua ini hanya mimpi belaka. Aku terjaga dalam tidurku di malam itu. Lalu tersenyum geli sendirian. ======================================================= Orang tua sering bilang. Mimpi itu isyarat. Mimpi itu firasat. Maka bermimpilah. Kejarlah mimpi itu karena itu akan menjadi realitasmu. Menjelma menjadi kenyataan. Meretas jalan kebahagiaan. Dan aku mempercayai selalu kata-kata itu. Isyarat itu. Firasat itu. Mimpi-mimpiku. Bertemu dengan Ai, yang mirip Yuko Natori. Tak ada keraguan padanya. Aku suka padanya. Tertarik. Jatuh hati. Jatuh cinta padanya. Kujadikan kata-kata orang tua selalu sebagai mantra. Maka ijinkan aku  untuk kembali tidur. Mendengkur.  Mengejar mimpi indah tadi yang belum selesai. Mencari Ai, sang Yuko Natori itu ke mana pun dia pergi. Akan kukejar dia ke manapun dia menghindar. Kutangkap. Dan kudekap. Seperti tadi lagi. Dan takkan kulepaskan. Untuk kujadikan  milikku saja seorang sendiri. Dengan siapapun aku tak mau berbagi. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, cinta Ai semuanya akan ku-monopoli.  Dengan bayang sendiri di cermin pun aku enggan berbagi cinta ini. Apalagi denganmu, kawan! Cuma teman fesbukan. Sori kali ini Indra Malela butuh privasi. Jadi kisah mimpi selanjutnya, maaf takkan kutulis di sini. Terlalu liar. Nanti jadi gempar! Kata orang, orang yang sedang jatuh cinta tak ada bedanya dengan orang gila. Seperti Majnun dan Laila. Sekarang  saya sedang jatuh cinta. Entah untuk yang ke berapa. Tapi secuilpun,  Tidak sekalipun.  Saya belum pernah merasakan jadi orang gila. Seditikpun. Di manapun. Tidak! Tidak akan pernah. Jadi, orang yang menyamakan orang sedang jatuh cinta sama dengan orang gila, tentu orang itu pernah merasakan keduanya. Pernah jatuh cinta. Dan pernah jadi orang gila.  Orang waras yang sedang jatuh cinta seperti saya, tak kan pernah mempercayai kata-kata orang gila. Saya sedang jatuh cinta? Ya. Saya sudah gila? Tidak! Enak saja! Saya ini Indra Malela. Indra Majnun Laila! Selamat Malam, teman-teman! Ai, my Yuko Natori, tunggu aku akan kembali! -------------------------------------------------------------------------------- Kisah lanjutannya: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/06/07/sepenggal-kisah-cinta-dari-nagoya-16/ [caption id="attachment_114524" align="alignleft" width="550" caption="Ke manapun kau pergi kan kuikuti, ke mana pun kau menghindar kan kukejar"][/caption]

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun