Mohon tunggu...
KOMENTAR
Pendidikan Artikel Utama

Memaknai Penyembelihan Hewan Qurban dalam Pandangan Ilmu Peternakan

22 Oktober 2012   08:26 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:32 1455 6

Yang jadi persoalan, seringkali terjadi di masyakarat kita perlakuan terhadap hewan/ternak qurban masih tidak benar. Artinya sebagian besar masyakarat baik itu peternak, pedagang, pembeli dan lain sebagainya masih “tidak ber-peri kehewanan dan masih mengabaikan kesejahteraan ternak (animal welfare) dalam mempersiapkan dan membeli, menangani, memotong hewan qurban. Akibatnya, kualitas dan kuantitas daging yang dihasilkan memberikan dampak yang sangat merugikan baik secara spiritual,ekonomi maupun social budaya.

Untuk mencermati hal tersebut,contoh hal yang bisa kita lihat yang terjadi saat ini diberbagai sudut-sudut kota di Indonesia sejak minus 20, para peternak dan pedagang sudah menyebarhewan ternaknya di tanah lapang dan dibiarkan panas dibawah teriknya matahari berlama-lama tanpa pernah memperhatikan kenyamanan ternak itu sendiri dengan memberikan pakan dan air minum secukupnya. Seakan-akan hewan ternak dieksploitasi sedemikian rupa agar para pembeli hewan qurban tersebut berdatangan tanpa pernah memperhatikan kesejahteraan dan kenyamanan ternak itu sendiri. Belum lagi setelah ada kesepekatan dan telah terjadi transaksi antara pedagang dan pembeli, ternak tersebut ditarik dengan paksa, terkadang karena ternaknya sulit untuk bergerak, ekornya dilipat agar ternak mau bergerak dan berjalan untuk naik ke mobil angkutan yang telah disediakan.

Selanjutnya diatas mobil angkutan, hewan ternak diikat tanpa memperhatikan kapasitas angkutan serta kenyamanan ternak hewan qurban yang akan diangkut. Disinilah hewan ternak mengalami stress dan meruginya lagi kehilangan bobot badan (penyusutan) hingga 10 persen. Tanpa pernah diperhitungan para pedagang dan pembeli. Nah, yang lebih mengerikan lagi pada saat hewan ternak akan disembelih. Seringkali para pemotong (pejagal) pada saat menyembeli hewan ternak qurban belum memiliki keahlian yang memadai alias amatiran. Mereka beramai-ramai menarik ternak dan mengikatnya pada tempat penyembelihan yang mereka telah siapkan, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa begitu sulitnya ternak ditarik berjalan menuju tempat pemotongan, para pejagal karena terbiasa mematahkan ekornya agar mau bergerak. Ditambah lagi dengan pisau yang digunakan pada saat memotong/menyembelih kerap kali tidak tajam sehingga hewan ternak mengalami siksaan yang sangat mengenaskan. Seharusnya dengan pisau yang tajam bisa langsung memutuskan saluran vena yugularis ternak tanpa menyiksa.

Proses pegulitan dan perecahan (deboning) pada saat pemotongan pun masih belum sesuai dengan aturan pemotongan standar. Potongan-potongan dibiarkan diatas tanah sehingga potongan daging (karkas) sudah kotor dan terkontaminasi dengan tanah.

Dalam hal ini, Dinas yang membidangi fungsi dan pengawasan yakni Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan tentunya harus mengambil sikap melalui kebijakan peraturan dan perundang-undangan untuk segera memperhatikan dan mengatur soal penanganan hewan qurban yang dilakukan setiap tahun ini. Harusnya sudah dipikirkan dengan petimbangan yang matang untuk penataan kembali serta lokasi yang layak dan nyaman dengan berbagai fasilitas yang lengkap untuk hewan ternak yang akan diqurbankan.

Penggunaan RPH bisa kembali dipertimbangkan disamping sebagai pusat pemotongan resmi yang telah disertifikasi oleh pemerintah sekaligus sebagai sentral (pusat) penanganan hewan qurban. Keuntungan lain adalah mudah dalam pengontrolan penyakit menular pada ternak. Dari sini para peternak dan pedagang serta blantik yang hendak memotong harus diberikan pemahaman dan pelatihan kalau perlu diberikan setifikat agar mereka bisa professional sehingga kualitas daging sesuai standar ASUH (aman, sehat, utuh dan halal). Kedepannya tak ada lagi istilah perlakuan ternak yang tidak ber-peri kehewanan dan tidak memperhatikan kesejahteraan ternak itu sendiri. Padahal kita semua tahu bahwa hewan ternak tersebut juga mahluk hidup yang ingin diperlakukan sewajarnya terlebih lagi jika kita kembali ke makna dan hakikat dari tujuan idul qurban dalam Agama Islam itu sendiri yang tidak lepas dari makna besarnya yaitu keikhlasan secara totalitas***.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun