Mohon tunggu...
KOMENTAR
Pendidikan Pilihan

Ucapan Tokoh Yang Menyulitkan Pendukungnya

6 Juni 2014   04:08 Diperbarui: 20 Juni 2015   05:06 824 7
Tokoh yang dimaksud tentu tokoh nasional yang dapat mempengaruhi pendapat masyarakat. Sekali lagi pendapat, bukan pendapatan, lebih khusus lagi pendapat yang berkaitan dengan keputusan memilih diantara dua capres Prabowo dan Jokowi siapa yang akan dipilih rakyat yang punya hak pilih.

Ucapan atau pernyataan seorang Capres dan tokoh nasional pendukungnya pada masa kampanye sekarang harus diamankan oleh para pendukungnya, terutama tim sukses garda depan yang ditugaskan menghadiri acara talk show atau debat di stasiun TV. Bila pernyataan yang diucapkan sebuah pendapat yang dapat diterima semua pihak termasuk lawan, maka tak ada beban untuk mengamankan pernyataan tokoh itu, akan tetapi bila yang diucapkan kontroversial yang menjadi sasaran kritik pihak lawan, mau tak mau tim sukses harus memutar otak mencari jawaban logis atau pembenaran atas pernyataan sang tokoh, baik ia tokoh pendukung maupun Capres yang bersangkutan.

Ada tiga contoh pernyataan tokoh pendukung dan capres yang menurut saya membebani tim sukses masing-masing, baik akibat salah ucap yang tak sengaja maupun pelontaran statement yang disengaja:


  • Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnoputri, menyebut Jokowi sebagai petugas partai yang ditugaskan menjadi Calon Presiden dari PDIP. Kata 'petugas-partai' dan ungkapan 'ditugaskan partai' menuai kritik pihak lawan maupun masyarakat, diinterpretasikan Jokowi bukan Capres yang mandiri, melainkan dikendalikan partainya lebih khusus lagi dikendalikan oleh Ketua Umum PDIP.
  • Jokowi pada saat memberi kata sambutan atau pidato di KPU, saat penetapan nomor urut capres-cawapres, entah sengaja atau keceplosan, ia mengucapkan 'pilihlah nomor 2'. Mudah sekali bagi siapapun mengartikan ucapan Jokowi tersebut sebagai kampanye sebelum waktunya. Padahal baru saja Ketua KPU di tempat yang sama menyatakan kampanye dimulai pada 4 Juni 2014 dan diakhiri pada 5 Juli 2014.
  • Prabowo melontarkan wacana akan menetapkan mantan Presiden Suharto akan diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Dapat dibayangkan bagaimana reaksi keras dari kubu Capres Jokowi dan juga dari sebagian masyarakat non pendukung resmi yang masih memandang Presiden Suharto tidak pantas digelari pahlawan nasional.
KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun