Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Artikel Utama

Kiri Kanan Oke

26 Desember 2009   03:58 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:46 1433 0
[caption id="attachment_43674" align="alignleft" width="300" caption="Foto"][/caption]

Pada tanggal 20 Februari 1995, seorang pasien penderita diabetes bernama Willie King (51 tahun) dijadwalkan untuk menjalani operasi amputasi pada kakinya yang sudah mengalami pembusukan (gangraen). Semua prosedur persiapan operasi di rumah sakit di Tampa,Florida ini sudah dilaksanakan termasuk data tertulis mengenai identitas pasien dan bagian tungkai yang akan diamputasi. Informasi yang disampaikan oleh dokter kepada King adalah akan dilaksanakannya operasi amputasi kaki kanan dibawah lutut. Namun kesalahan fatal telah terjadi pada data printout komputer yang mencantumkan ‘kaki kiri’ untuk diamputasi. Kesalahan ini baru disadari dua jam setelah kaki kiri Willie King selesai dipotong. Ini sungguh sangat ironis, karena sebelum memasuki kamar operasi, King sempat bercanda dengan mengatakan : ”Anda tahu kan kaki yang mana? Jangan sampai saya bangun dari pembiusan dan menemukan kaki saya yang masih baik hilang.” Akhir cerita sedih ini, kaki kanan yang memang bermasalah juga diamputasi,sehingga dia kehilangan kedua belah kakinya. Ini yang disebut kiri dan kanan tidak oke.

Masalah kiri dan kanan ini sudah dari zaman dahulu kala menjadi perhatian manusia. Misalnya kita sering bertanya kenapa sebagian besar (80-90 %) manusia dimuka bumi ini ’bertangan kanan’ atau right handed. Hanya sebagian kecil saja, yaitu kira-kira 10 persen yang ’kidal’ atau left handed. Berbagai teori mulai dari ilmu kedokteran, sosiologi,psikologi dikemukakan untuk menjelaskan fenomena ini,akan tetapi sejauh ini belum ada pendapat yang bisa diterima oleh semua orang. Namun yang jelas, semua jenis peralatan yang digunakan manusia, mulai dari gunting, pisau, kulkas, camera, pembuka kaleng (can-opener), mouse pada komputer, senapan militer, dirancang untuk mereka yang bertangan kanan. Pada senapan panjang yang dirancang untuk dipanggul di bahu sebelah kanan misalnya, apabila digunakan oleh penembak kidal, akan menyebabkan cedera pada mata dan kepala akibat ’selongsong peluru’ yang terlempar keluar ke kanan.

Sejarah peradaban manusia mencatat pelbagai diskriminasi yang ditujukan kepada mereka yang kidal. Orang tua dari anak yang kidal akan ’memaksa’ anaknya untuk menulis dengan tangan kanannya dari usia dini. Dari segi bahasapun selalu digambarkan bahwa ’kanan’ adalah baik dan ’kiri’ adalah tidak baik. Misalnya kata bahasa Inggris right selain bermakna ’kanan’ juga berarti ’betul atau benar’. Dalam bahasa Sepanyol diestro dan bahasa Italia destro bermakna ’kanan dan trampil’, dan dalam bahasa Irlandia deas bermakna ’kanan dan menyenangkan’. Kebalikannya dengan kiri, dalam bahasa Latin sinistra berarti ’kiri dan sial, bahasa Perancis gauche berarti ’kiri dan kikuk’ bahkan ada ungkapan dalam bahasa Belanda twee linkerhanden hebben (secara harafiah bermakna ’mempunyai dua tangan kiri’) untuk mengonotasikan orang yang kikuk (clumsy atau awkward). Dalam bahasa Chinapun zuŏ mempunyai makna ganda yaitu ’kiri dan tidak pantas’ Ungkapan zuŏdao (arti harafiah ’jalan kiri’) bermakna ’cara yang tidak bermoral’

Menarik untuk dipelajari mengapa kita menulis dan membaca dari kiri ke kanan (meskipun untuk tulisan Hibrani dan Arab dilakukan dari kanan ke kiri), atau pertanyaan kenapa orang menaiki kuda dari sebelah kiri, atau kenapa sebagian besar kegiatan manusia berorientasi dari kiri ke kanan (counter clockwise). Ada seorang peneliti yang mencatat kegiatan-kegiatan ’berlawanan dengan jarum jam’ ini seperti lomba mobil balap,lomba lari (track and field),pacuan kuda,lomba skating, pemutaran Hula Hoop,lomba balap sepeda indoor dan sebagainya. Ada pula pertanyaan yang cukup menggelitik soal kancing baju. Kenapa pada baju pria kita mengancingkan dari kiri ke kanan, sedangkan pada baju wanita kita mengancingkan dari kanan ke kiri? Ada yang memberikan argumentasi bahwa kesatria zaman dahulu mengancingkan memakai tangan kiri karena tangan kanannya harus selalu siap untuk menghunuskan pedang bila didadak oleh musuhnya, sedangkan wanitanya dikancingkan dari sebelah kanan, karena biasanya dia dibantu oleh seorang dayang dari sebelah kanan. Ada lagi ’teori’ yang mengatakan bahwa wanita lebih sering menyusui dengan payudara kirinya, sehingga dia akan membuka bajunya dengan tangan kanan (bayinya digendong di sebelah kanan).

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun