Mohon tunggu...
KOMENTAR
Nature Artikel Utama

Rame-rame Minum Air Sungai Cisadane

19 September 2014   06:42 Diperbarui: 28 Mei 2018   06:26 115 0

Penulis berkesempatan mengunjungi Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) yang beralamat di Jalan Raya Puspiptek, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Kunjungan pada Rabu, 17 September 2014 kemarin itu, berbarengan dengan pelaksanaan Science Trip yang dilaksanakan oleh SMAN 1 Kota Tangsel. Terpilih, hanya dua kelas, atau sekitar 73 murid kelas X saja yang beruntung melakukan kunjungan ke Puspiptek ini, tentu saja dengan didampingi Kepala Sekolah Drs H Sujana M.Pd., para wali kelas, dan guru bidang studi terutama yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Kimia, Fisika, dan Sains.

Pagi itu, para siswa diterima di Gedung Graha Widya Bhakti, Puspiptek. Suasana semarak sekali. Maklum di lokasi yang sama, rupanya juga tengah diselenggarakan Festival UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) yang rencananya menghadirkan pucuk pimpinan Kota Tangsel yaitu Walikota Airin Rachmi Diany. Adapun kegiatan science trip siswa-siswi SMAN 1 Kota Tangsel digelar di ruang pertemuan yang berbeda.

Sesuai rencana, science trip antara lain diisi dengan perkenalan tentang Puspiptek itu sendiri, lalu dilanjutkan dengan kunjungan ke Laboratorium PTIPK – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pengolahan Air Bersih (PAB), Pengolahan Sampah, dan Penggemukan Sapi.

Paparan mengenai Puspiptek, berikut “isi dapur”, kinerja, dan prestasinya, disampaikan oleh Humas Puspiptek Ganang Sukoco. Menurutnya, Puspiptek adalah sebuah cluster ilmu pengetahuan dan teknologi terlengkap serta terbesar di Indonesia. Kawasan seluas 460 hektar ini dirancang untuk menjadi kawasan yang mensinergikan Sumber Daya Manusia (SDM) terdidik dan terlatih dengan dukungan peralatan penelitian dan pelayanan teknis yang paling lengkap, serta teknologi dan keahlian yang telah terakumulasikan selama lebih dari seperempat abad.

Puspiptek didirikan pada 1976 atas gagasan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang pertama yaitu Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo. Adapun pelaksanaannya direalisasikan oleh Menristek dan Ketua BPPT Prof Dr Ing B.J Habibie, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 43 tahun 1976.

Sejak berdiri hingga kini, Puspiptek telah memiliki 47 Pusat Balai Litbang dan Pengujian dibawah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), mulai dari BPPT dibawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta dua laboratorum dibawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Sementara itu, dalam film singkat---selama 13 menit---yang memperkenalkan Puspiptek disebutkan bahwa, laboratorium Puspiptek dilengkapi dengan fasilitas modern dengan jumlah investasi sebesar lebih dari US$ 500 juta, dan didukung lebih dari 5.000 SDM yang terdiri dari tenaga terlatih lulusan dalam maupun luar negeri.

Pusat Informasi Iptek tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga berperan dalam advokasi teknologi, pelayanan teknologi, difusi, diseminasi, serta komersialisasi teknologi. Sebut saja misalnya, Pelayanan Teknologi Aerodinamika Bidang Keindustrian, seperti Rancangan Jembatan Penajam di Balikpapan dan Jembatan Teluk Belinyu; Rancangan Jembatan Inari dan Jembatan Holtekam di Papua; Rancangan Jembatan Kutai Kartanegara Baru Kalimantan Timur, dan Jembatan Teluk Kendari di Sulawesi Tenggara.

Pengolahan Air Bersih dari Sungai Cisadane

Selain menyimak paparan mengenai profil Puspiptek, para siswa peserta science trip memperoleh kesempatan untuk melihat secara langsung proses Pengolahan Air Bersih (PAB), atau lebih kerennya disebut Water Treatment Facility. Lokasi PAB, agak jauh dari akses pintu masuk Puspiptek, harus lebih dahulu melintasi jalan yang kanan-kirinya masih berupa “hutan”. Disebut hutan, karena memang, 60 persen dari total kawasan Puspiptek adalah masih lahan terbuka yang ditumbuhi beraneka macam tumbuh-tumbuhan langka. Semuanya dilestarikan, tidak boleh sembarangan ditebang.

“Ibaratnya, memetik dahan pohon yang ada di lingkungan Puspiptek ini pun, memiliki tata tertib khusus. Tidak sembarang orang boleh memetik atau memotong pohon, kecuali oleh pihak yang memang memiliki kewenangan mengurus pepohonan dan tanam-tanaman di kawasan ini,” ujar Ganang Sukoco kepada penulis.

Lokasi PAB cukup luas. Kompleksnya dikelilingi pagar besi, sehingga tidak sembarang orang dapat memiliki akses masuk dan keluar secara leluasa. Sebelum memasuki pintu gerbang PAB pun, ada Pos Keamanan yang selalu stand by 24 jam.

Air dari Sungai Cisadane disedot 90 – 100 liter per detik, kemudian dialirkan ke dalam bak pengendapan. Kotoran kasar, termasuk lumpurnya akan mengendap ke dasar bak pengendapan, sedangkan airnya akan terus mengalir ke bak pengaduk air. Saat airnya mengalir inilah, diberi atau dibubuhkan tawas, yang kadar atau porsinya disesuaikan dengan hasil yang pantauan para peneliti di ruang kendali.

Di bak pengaduk air, terdapat 12 mesin pengaduk yang bekerjanya berbeda-beda, mulai dari yang putaran adukannya kencang, sedang, hingga perlahan. Putaran adukan yang kencang atau kecepatan tinggi, akan membuat kotoran yang terkandung di air dapat cepat mengendap. Sedangkan putaran adukan air yang semakin perlahan, membuat kotoran-kotoran yang halus pun akan segera mengendap, dan tidak muncul kembali, atau tidak naik lagi ke permukaan air.

Selesai dari bak pengaduk, air dialirkan ke bak sedimentasi untuk mengendapkan kotoran-kotoran halus ke dasar bak. Di bak sedimentasi kotoran halus ini saja sudah terlihat, warna air yang bersumber dari Sungai Cisadane yang semula coklat keruh, sudah berubah menjadi bening.

Dari bak penampungan dalam tanah ini, air kemudian “ditembakkan” menuju ke bak penampungan yang bentuknya berupa tower atau menara yang menjulang tinggi, dan berada di tengah-tengah kawasan Puspiptek. Bentuk tower ini mirip dengan senter batere raksasa yang bulat di ujungnya. Menara bak penampungan air ini memiliki sistem sensor otomatis, artinya, kalau air di menara bak penampungan sudah penuh, maka secara otomatis, suplai “tembakan” air dari pompa di PAB berhenti bekerja. Begitu pun apabila debit air di menara bak penampungan berkurang isinya, maka secara otomatis pula, pompa “penembak” suplai air dari PAB akan bekerja maksimal untuk segera mengisinya.

Begitulah, pemenuhan kebutuhan air bersih di kawasan Puspiptek ini, sudah berhasil disediakan secara mandiri, dengan mengolah air sungai Cisadane menjadi air bersih, yang belum layak minum, atau masih harus dimasak terlebih dahulu.

“Mengapa tidak didistribusikan juga ke sekitar perumahan atau kawasan lain di luar Puspiptek? Karena memang peruntukan PAB ini memang untuk seperti itu, memenuhi kebutuhan air bersih internal Puspiptek saja. Apalagi, rumah-rumah yang berada di kawasan Perumahan Puspiptek pun memang dilarang untuk mengebor tanah, membuat sumur bor, demi untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya,” ujar Ganang Sukoco yang memberikan kepada penulis cinderamata berupa buku berjudul 106 Inovasi Indonesia, edisi I, 2014, yang diterbitkan oleh Business Innovation Center (BIC), dan didukung sepenuhnya oleh Kementerian Riset dan Teknologi RI.

Berbagai Inovasi Puspiptek 2014

Karya inovasi dalam buku 100+ inovasi Indonesia dikategorikan ke delapan kelompok karya inovasi, sesuai dengan delapan fokus bidang pembangunan iptek dalam Agenda Riset Nasional (ARN): ketahanan pangan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi kesehatan dan obat, serta material maju; ditambah dengan kategori sosial kemanusiaan (dan kategori lain-lain di luar ke delapan fokus tersebut).

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun