Sebuah jendela berjeruji
Sibaklah daun jendela rapuh
Berderit mengaduh renta
Biasanya, muncul seraut wajah
Yang kuhapal kerut-kerut melintang di keningnya
Yang lelah menampung keringat
Menyerap bau apak kehidupan
Apa kabar Pak Tua?
Jemari kurus menggenggam jeruji
Tanpa daya tanpa kata
Gagah tak berlaku
Pudar, masa telah menanggalkannya
Hanya mata berkilat
Menyerap sedikit harap
Pak Tua sedang memandang sisa dunia
Aku telah mendaki gunung kehidupan
Terengah tiba di puncak
Panorama terhirup indah
Tunggulah, burung gagak melintas sebagai pertanda