Tarawih pertama di bulan suci ini benar-benar menyesakkan, ada sesuatu yang meletup-letup di dalam hati, kali ini bukan tentang saya, ini tentang seorang kakek tua yang selalu setia di mushola saat hari-hari biasa, terlalu setia untuk menjadi penghuni pertama dan terakhir di sanggar yang sudah dia anggap menjadi miliknya. Karena dia benar-benar sendiri di sanggarnya. Tak jarang dia memerankan dua peran sekaligus, menjadi sang muadazin sekaligus menjadi imamnya, bahkan sekali waktu peran makmum dia perankan secara bersamaan. hm, benar-benar sendiri dalam makna yang sebenar-benarnya. Itulah hari-hari biasa.
Petang ini ramadhan telah tiba, bedug bertalu-bertalu memanggil semuanya menuju mushola, puluhan orang berbondong-bondong menghampirinya, sampai-sampai rumah warga di samping mushola pun menjadi tempat alterntif agar bisa tarawih bersama-sama. Biasa. Fenomena yang sangat biasa di Indonesia. Suasana sangat ramai sekali. Dipastikan, Jamaah mushola sore ini 95 % adalah penghuni mushola yang baru. BBB, Benar-Benar Baru, termasuk seorang tokoh yang didaulat menjadi imam dan berkoar-koar tantang ini itu di tarawih perdana kali itu. Luar biasa memang keberanian tokoh masyarakat yang satu ini.
Sementara suara manusia-manusia itu riuh rendah mengurus ini itu, dipojok mushola, kakek tua itu masih setia duduk bersila, khusyu membisikkan kalimat-kalimat syahadah yang terdengar syahdu dari tempat orang berlalu lalang. Tak ada yang beda dari penampilannya, tak peduli orang di luar sana menggunjingnya atau memakinya karena dia tetap merasa ini adalah sanggarnya dan sudah terlanjur menikmati kesendiriannya tiap hari di mushola ini.
Tak ada yang istimewa, tapi entah kenapa, bagi saya pribadi semua ini menyisakan buih-buih airmata, terlebih setelah melihat sorot mata kakek tua itu. (fahmializar truestory)