Konsep Hustle Culture dilahirkan pada tahun 1970 dan sampai sekarang semakin berkembang. Walau sebenarnya budaya ini bermaksud baik untuk meningkatkan produktifitas dan etis kerja orang, pada kebelakangan ini, mulai terlihat efek samping dari budaya ini. Awalnya budaya Hustle Culture sebagian besar mempengaruhi orang-orang dewasa. Pada saat ini, Hustle Culture mempengaruhi tidak hanya orang kerja tetapi juka anak-anak muda yang masih bersekolah. Sekarang, dengan semua tekanan untuk anak-anak yang bersekolah terutama anak SMA yang harus memilih jalur masa depan mereka, murid-murid SMA mulai terpengaruh Hustle Culture, berlomba memasuki universitas impian mereka.
Penulis mengambil sampel dari murid-murid SMAS Global Prestasi School untuk melihat lebih dekat tentang pengalaman anak-anak muda tentang Hustle Culture. Namun, saat ditanya, penulis menemukan bahwa banyak dari murid-murid SMAS Global Prestasi yang tidak terlalu kenal dengan istilah Hustle Culture. Para murid lebih mengenal dengan kata 'Toxic Productivity'. Siswa-siswi juga mengaku bahwa mereka sempat terpengaruhi oleh gaya hidup tersebut, bahwa mereka merasa banyak tekanan untuk mendapat nilai bagus dengan bekerja keras.
Jika ditanya sebenarnya banyak sekali murid yang merasa pengaruh Hustle Culture. Walau mereka tidak sadar akan apa yang mereka alami. Penulis mengakui bahwa Hustle Culture memiliki sebuah pengaruh yang bisa menjadi pengaruh baik bagi para murid, pada akhirnya, jika terlalu kelewatan, bisa juga menjadikan para murid menjadi 'burn out'. Murid-murid yang terkena gejala-gejala ini terkadang melihat kelelahan mereka sebagai sesuatu yang bagus, karena mereka akhirnya bisa mencapai kesuksesan. Untungnya, banyak dari murid-murid yang mengetahui baik dan buruk dari Hustle Culture walau awalnya mereka tidak sadar bahwa Hustle Culture adalah hal yang selama ini mereka alami.