Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Penyalahgunaan Kontrol Sosial

14 November 2013   18:38 Diperbarui: 24 Juni 2015   05:10 6 0
Siang tadi saya kedatangan dua orang wartawan. Yang satu orang saya kenal, seorang wartawan yang ditendang dari berbagai koran karena seringkali dilaporkan melakukan pemerasan dengan senjata identitas kewartawanannya. Mereka berdua bertanya tentang bantuan pemerintah yang diterima desa kami. Mereka bilang, sebagai kontrol sosial mereka berhak tahu berbagai hal tentang bantuan tersebut. Terus terang saya agak kurang mood untuk meladeni mereka karena reputasi mereka. Saya menjawab pertanyaan mereka dengan no coment.

Ketika era reformasi tiba, dunia pers memang ketiban durian runtuh. Banyak orang jadi wartawan, termasuk tukang tambal ban pun nyambi jadi wartawan. Banyak media massa yang muncul tapi tidakmampu menggaji wartawannya. Akhirnya para wartawan tersebut mencari berbagai cara untuk menghidupi mereka termasuk terus menerus mengorek kesalahan seseorang, kemudian dengan sedikit ancaman mereka menawarkan kompromi yang ujung-ujungnya uang.

Pernah satu kali saya kedatangan seorang wartawan lokal. Setelah ngobrol ngaler ngidul dia bicara begini,"Ada ga yang bisa cash and carry?" Saya tanya, maksudnya apa? Dia jawab, "Ya, yang cepet jadi uang lah. Misalnya ada PNS yang selingkuh.." Oooohhh, mau meras rupanya.

Wartawan/media massa memang kontrol sosial. Tapi bila perilakunya demikian, kontrol sosial macam apa? Memang tidak semua wartawan begitu. Masih banyak wartawan yang baik dan profesional. tapi gejala banyaknya wartawan yang mencari napkah dengan cara mengorek kesalahan kemudian menjadikannya duit, mau jadi apa negeri ini? Itu penyalahgunaan Kontrol Sosial. Saya pikir, wartawan demikian haruslah segera ditertibkan (bahasa halusnya dibasmi).

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun